Berita

Kisah Secangkir Kopi

 

Doyan minum kopi? Kalau tak mau ketinggalan cerita dan masuk dalam jajaran penikmat kopi masa kini, siapkan dana minimal Rp50.000 dalam kantong. Uang sebesar itu minimal bisa membeli segelas-dua minuman hitam masa kini yang rerata dibanderol Rp20.000-Rp35.000. Tentu saja tergantung dari jenis kopi dan racikan minuman yang dipesan.

 

Biasanya, kalau meminum kopi dengan harga segitu, Anda berarti memesan di kedai kopi yang penyajinya adalah lulusan 'orang sekolahan' khusus peracik kopi. Nah kalau betul, sebelum minum Anda harus memesan dulu di meja kasir.  Selepas memesan pada meja kasir, Anda cukup menanti hasil pilihan yang diracik oleh barista alias peracik kopi di belakang meja kasir.

 

Tak lupa, kasir biasanya menanyakan nama Anda saat membayar. Bukan lantaran sang kasir benar-benar ingin tahu atas dasar keramahan khas Indonesia, tetapi agar supaya bisa memanggil Anda ketika pesanan kopi sudah tersedia. Buktinya, meski nama saya Rizka S.Aji, begitu saya menyebutkan nama Ibrahim, sang kasir tak berusaha menanyakan apa benar itu nama asli saya atau sekadar akal-akalan. Dampaknya bukan ke kasir itu, tapi justru berbalik ke saya. Manakala dipanggil dengan nama Ibrahim saya pun tak merasa memiliki nama itu sehinggaa kopi sudah tersaji lama tak jua saya ambil. Nasib iseng..

 

Eh ini bukan cerita soal cara pesan itu, tapi perihal kopi mengopi kekinian yang harganya persis dengan upah para nenek pencabut rumput di salahsatu perumahan di Sentul, Jawa Barat. Perumahan yang sudah tak terurus dengan baik itu, masih mempekerjakan para nenek penduduk asli sekitar perumahan dengan bayaran Rp23.000 untuk setengah hari kerja. Jumlah yang terbilang besar di lingkungan itu.

 

Menurut pengakuan para nenek ini -mereka enggan menyebut nama dan kerap berkelakar dalam bahasa Sunda yang saya tak pahami- dalam sepekan mereka punya 5 hari kerja. "Biasanya libur Sabtu dan Minggu atau Minggu dan Senin. Terserah kita mau ambil yang mana," ujar Nenek berkebaya putih dengan corak batik.

 

Mereka bekerja setiap hari sejak pukul 07.00 hingga pukul 11.00. Dalam waktu empat jam itu, upah yang dibayarkan sebesar Rp23.000 dan diambil saban akhir pekan. Nenek kebaya putih melanjutkan, ia dan teman-temannya merasa beruntung bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini lantaran sebagai penduduk asli ia sebelumnya menggantungkan hidup dari bertani. Sejak ada perumahan ini, ia bisa mendapat tambahan uang belanja bagi keluarganya.

 

Berapa usia mereka? Soal ini yang ditanya hanya cekikikan tak memberi jawaban. Taksiran saya rerata berada di usia 60 tahun. Sebuah usia yang kebanyakan bagi perempuan di kota besar sebagai masa-masa menikmati momong cucu-cucu sambil sesekali pergi ke salon untuk membuat rambutnya mumbul dengan sasak yang meninggi.

 

Soal mumbul itu sebaiknya tak saya teruskan. Menjadi tak menarik lagi dibanding melihat upaya para nenek ini untuk terus bekerja sepanjang setengah hari membersihkan rumput di jalan-jalan yang tumbuh liar dan merusak pemandangan perumahan itu.  Mereka masih gigih berjuang untuk sekadar mendapat upah yang besarnya tak lebih dari harga kopi di kedai kopi ternama di kota-kota besar Indonesia.

 

Berbekal caping tersemat di kepala dan pisau dapur di tangan, mereka terus mencerabuti tumput dan gulma yang tumbuh di sela-sela jalan. Tak terdengar keluh kesah, yang paling kerap terdengar adalah canda dan tawa sesama mereka dalam bahasa Sunda. Mereka tetap ceria meski upahnya tak lebih dari secangkir kopi masa kini.

(Sentul 2017)