Berita

Dunia Wayang Suparji

 

Penasaran melihat plang bertuliskan "Griya Wayang Kulit, Terima pembuatan wayang kulit, lukis foto dan lain-lain" di jalan Terusan Kalijati, Jakarta Selatan, membawa saya ke rumah sang empunya plang itu. Setibanya di lokasi, jauh dari bayangan yang saya pikirkan: kondisi rumahnya tak seperti 'griya' sebagaimana layaknya bengkel perajin kesenian  wayang yang sudah dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO itu.

 

"Kalau hujan pasti banjir. Airnya keluar dari sela-sela ubin. Jadi mau dibendung juga enggak bisa," sebut Suparji, pembuat wayang asal Solo, Jawa Tengah ini, Ahad (22/9).

 

Bersama istrinya, Suparji mengontrak rumah yang saya perkirakan berukuran 30 meter persegi. Saban bulan, ia harus menyisihkan Rp400.000 untuk melunasi kontrakan itu. Artinya, minimal sehari ia harus menyiapkan kurang lebih Rp15.000. "Alhamdulillah ada aja rezekinya,"sebutnya lagi.

 

Kakek enam cucu dari tiga anaknya itu menceritakan, ia merantau dari Solo sejak tahun 1975 dan menetap di bilangan Cipete, Jakarta Selatan. Ia memilih menjadi pekerja bangunan dengan penghasilan Rp800 kala itu. Tahun 1978, ia pun memperistri Wati yang kemudian mendampinginya hingga kini.

 

Dunia wayang, bukan hal baru baginya. Bungsu dari lima bersaudara itu, mengaku sudah membuat wayang dari kardus bekas sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar. Ia pun kabarnya masih ada hubungan persaudaraan dengan salah satu dalang kondang, di Jawa Tengah. Soal ini, ia tak mau menceritakan lebih detail. "Khawatir nanti dibilang ngaku-ngaku. Soalnya itu pun saya tahunya setelah tua diberitahu paman saya," tuturnya lagi.

 

Selepas tak lagi menjadi kuli bangunan, ia memutuskan untuk serius menggeluti dunia pembuatan wayang. Tak ada keraguan dalam hatinya, ia yakin kepandaiannya mengukir dan mendesain wayang sesuai dengan ukurannya bisa dilakoni secara baik. Terlihat dari banyaknya pesanan wayang dari berbagai kalangan. Ia pun mengaku, bisa membuat aneka wayang sesuai dengan pesanan. Baik model klasik, maupun wayang modern yang berbentuk wujud manusia. Tak cuma lihai menatah (mengukir) wayang, Suparji juga paham betul bagaimana karakter-karkater wayang yang dibuatnya.

 

"Seperti Hanoman ini, dia itu badannya berwarna putih melambangkan kesucian. Dia satu guru dengan Werkudara (Bima), sehingga sama-sama mempunyai kuku pancanaka. Kalau bertarung enggak pernah kalah," sebutnya.

 

Selain filosofi wayang, ia pun paham aneka bentuk wayang yang dipengaruhi oleh asal wayang itu lahir. Misalnya untuk wayang aliran (gragag) Jogjakarta memiliki bentuk tubuh yang pendek-pendek dan cenderung buntet. Sementara gragag Solo lebih langsing dan tinggi. Sedangkan untuk gragag Banyumasan, persis wayang Jogjakarta tetapi punya karakter warna yang lebih cerah.

 

"Kalau di Jogja dan Solo itu, Punakawannya terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong Kalau gragag Banyumas, enggak ada Bagong adanya Bawor. Bentuknya juga lebih nunduk," jelasnya lagi.

 

Sejak memutuskan untuk menekuni wayang, tak terhitung aneka wayang kulit sudah dibuatnya. Rata-rata, untuk pembuatan wayang ia membutuhkan waktu hingga 3 minggu. Lain halnya dengan pembuatan 'Gunungan' yang bisa membutuhkan waktu hingga 3 bulan. Maklum, Gunungan yang selalu muncul di awal atau di akhir cerita itu penuh dengan gambar aneka tokoh di dalamnya. Mulai naga, macan, banteng hingga monyet dan seluruh isi hutan.

 

Ia menceritakan, dalam dunia perwayangan, biasanya Gunungan biasanya memiliki gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai. Itu melambangkan pintu gerbang istana. "Gunungan itu seperti awal 'dunia' bagi pementasan wayang bagaimana ceritanya apakah mulai dari istana Hastina, atau dari lainnya," katanya lagi.

 

Inilah sekelumit kisah Suparji, perajin wayang yang saban hari memulai hidupnya dari 'Gunungan' rumah kontrakannya.

 

(Ampera 2017)