Berita

Pancasila di Sangga Buana

Jangan tanyakan ada berapa butir Pancasila ke Haji Chaerudin. Jangan pula menanyakan apakah Babeh Idin -begitu ia disapa- mengenal sosok Tedjo Sumarto SH yang di tahun 1980-1990 selalu menggaungkan suara beratnya di Radio Republik Indonesia membawakan acara: Forum Negara Pancasila. Saya khawatir, pertanyaan-pertanyaan itu tak akan menemui jawaban sebagaimana mestinya. Babeh Idin yang hanya lulusan sekolah dasar itu boleh jadi  tak pernah mencicipi Penataran P4 Pola 100 jam.

 

Tetapi simak apa yang dicita-citakannya: "Pesanggrahan Sangga Buana ini buat semua orang. Enggak peduli dia orang kampung sini atau darimana aja, dia mau agama apa sukunya apa, silakan bikin kegiatan. Asal jangan ngerusak aje," ujarnya dengan logat Betawi kental.

 

Sosok Bang Idin tak sulit ditemukan. Cukup ketik kata Pesanggrahan Sangga Buana di mesin pencari Google, anda bisa mendapati sedikitnya 18.700 artikel terkait dalam waktu 0,53 detik. Kesohoran Bang Idin memang bukan baru ini saja. Ia bercerita, bahkan raja dari salahsatu negara di Eropa ada yang khusus bertandang ke Sangga Buana untuk berbincang perihal pelestarian lingkungan.

 

Belum lagi aneka penghargaan dari dalam dan luar negeri diraihnya lantaran konsistensi lebih dari 30 tahun menanami pesisir sungai di Jakarta dengan aneka tumbuhan agar tejaga lingkungannya. "Waktu pilkada (Jakarta) yang kemaren itu, ada cagub dateng. Gue mah siapa aja mau dateng silakan ya itu asal komitmen juga ngejaga lingkungan. Gue pengen, Sangga Buana ini bisa berguna buat siapa aje," cetusnya lagi di suatu siang saat saya berkunjung ke sana.

 

Atas mimpinya itu ia mengajak segala lapisan elemen untuk bersama-sama berkontribusi untuk mewujudkan mimpinya itu. Salahsatunya Bang Idin akan menggelar perhelatan akbar di Sangga Buana dengan skala internasional. "Nanti kita undang semua orang mulai kementerian sampai organisasi di luar negeri. Maunya kegiatan ini akan dijalankan saban tahun. Tema tahun ini soal Bilah Nusantara. Tahun depan bisa aja beda lagi," sebutnya lagi.

 

Peradaban Bilah Nusantara, begitu tepatnya nama perhelatan yang akan digelar pada November 2017 ini. "Tahun ini kita bicarakan soal Bilah, tahun depan bisa hal yang berbeda. Intinya Sangga Buana bisa menjadi untuk menggagas hal-hal yang positif agar bermanfaat buat banyak orang, " sebut Theo Satria Chairuman, salah satu penggagas yang juga didaulat sebagai Creative Design di perhelatan ini.

 

Menurut Djalu Dwi Atmodjo, salahsatu Project Officer Peradan Bilah Nusantara, menceritakan, bilah atau alat pemotong di Indonesia begitu banyak dan tersebar. Tak cuma keris, tetapi juga aneka  pisau bahkan juga kapak. 

 

"Rencananya bulan November 2017 ini akan digelar di sini (Sangga Buana). Kita lagi mematangkan konsepnya dengan teman-teman. Ada dari Kampus Bamboe, Indonesia Blade sampai para pecinta alam," cetusnya.

 

Dadan Sudjati, punggawa Kampus Bamboe menyebutkan, perhelatan akbar untuk para penggemar bilah (pisau) ini sekaligus menjadi jembatan untuk bisa mengatrol industri bilah nasional yang kini belum tertata dengan baik. 

 

"Saya cuma berharap, para pande (besi) bisa lebih sejahtera. Blacksmith (pande besi) bisa jadi profesi juga, atau malah jadi pilihan (ketika) pensiun," tutur lelaki yang gemar mendaki gunung ini.

Segendang sepenarian, Babeh Idin prihatin, kini banyak potensi dalam industri bilah atau alat-alat pertanian berbasiskan besi justru didatangkan dari luar negeri. "Makanya,  Gue berharap, enggak berhenti sampai difestival aje ngomongin soal bilah. Nanti Gue berharap bisa mendorong industri lokal," harapnya lagi.

 

Persis apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa, negeri ini harus bisa mandiri tanpa bergantung negara lain. Tak hanya sekadar wacana, di Sangga Buana, Pancasila tak cuma dibicarakan, tetapi diamalkan.

(Sangga Buana, 2017)

(foto-foto: Dadan Sudjati/Kampus Bamboe)