Berita

Para Penjaga Budaya

 

Saban menonton pertunjukan wayang kulit, saya selalu terkagum-kagum dengan keserasian gerak para pendukung di dalamnya. Mulai dari para penabuh gamelan memainkan harmonisasi aneka peralatan musik khas Jawa itu, hingga peran Dalang sebagai aktor utama gelaran wayang kulit. Belum lagi, bagaimana pengrawit (pembantu) Dalang yang sibuk melakukan persiapan wayang-wayang apa yang harus diurutkan sesuai dengan lakonnya sehingga sang sutradara lancar menyajikan gelaran wayang sesuai dengan cerita yang diambil saat itu. 

 

Hati ini tambah dibuat berdecak  kagum lagi manakala menyaksikan gelaran wayang kulit semalam suntuk di Alun-Alun Kota Madiun, Jawa Timur, Senin (3/7). Awalnya hanya penasaran, sebagai pengunjung kota yang baru berusia 99 tahun ini melihat aktivitas yang ramai di lapangan kebanggaan Kota Pecel ini. Setelah menyambangi lokasi tersebut, nyatalah sebuah gelaran wayang kulit yang digelar Pemerintah Kota Madiun dalam menyambut hari jadi kota itu. 

Soal hari jadi ini, tak akan saya ceritakan lebih lanjut.Yang menambatkan hati saya, ketika melihat gelaran wayang kali ini tak seperti pada umumnya gelaran serupa seperti yang pernah saya tonton. Para pemain mulai Dalang hingga penabuh gong, nyatanya didominasi anak muda yang dugaan saya jauh dari dunia perwayangan pada umumnya. Walaupun, sesungguhnya bagi anak muda yang ingin terjun dalam dunia perwayangan sudah diakomodir melalui sekolah resmi seperti milik Institut Seni Indonesia, Surakarta yang punya jurusan pedalangan. 

 

Tetapi, tetap saja, apa yang saya lihat di Alun-Alun Madiun itu membuat saya berdecak kagum. Lantaran, untuk pementasan cerita Banjaran Gatotkaca  ini melibatkan dalang kecil Daffa Sakrisna pelajar  SMP N 4 Kota Madiun, Daifa Kamajaya pelajar SMAN 1 Kota Madiun, Dalang muda Aditya Krisna dan Sakti Mahardika serta duet Dalang dewasa Ki Kusminar dan Ki Jamuno.

 

Gaya maupun suara yang meluncur dari Dalang Sakti Mahardika, cengkok (irama) yang dipakai bisa lancar 'dinyanyikannya'. "Kalau sebelumnya perayaan kebanyakan mengundang Dalang dari luar daerah, sekarang memakai Dalang dari daerah Madiun sendiri, ini merupakan kesempatan yang bagus bagi  Dalang Madiun," tutur Dalang Sakti Mahardika dalam bahasa Jawa halus yang dilontarkan bersamaan dengan memainkan wayang kulit di pentas seolah-olah omongan dari  tokoh yang dimainkannya itu. 

 

Adanya 'kepercayaan' para Pendalang lawas untuk para anak muda ini, patut diacungi jempol. Sebab, kesenian pewayangan kini identik dengan keseniannya orang-orang tua masa silam. Padahal inilah salah satu budaya asli yang punya jasa besar untuk republik ini. Utamanya dalam menyebarkan informasi dan pengobar semangat untuk mengusir penjajah. Dahulu kala, kesenian pewayangan merupakan salahsatu media yang efektif untuk menyampaikan pesan tersembunyi. Seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga, salahsatu tokoh Sembilan wali yang menyebarkan islam di Pulau Jawa.

Sunan Kalijaga yang juga seorang seniman, tahu persis bahwa seni pertunjukan wayang ini, merupakan salah satu media yang efektif untuk menyampaikan informasi atau memberikan pencerahan bagi masyarakat, tanpa menimbulkan pergolakan yang berarti. Misalnya saja, Sunan menggubah ajian Jimat Kalimasada yang diambil dari dua kalimat syahadat -ikrar bahwa seseorang memeluk islam dengan keyakinan tiada Tuhan selain Alloh dan Nabu Muhammad itu utusan Alloh-. 

 

Malam itu, Dalang Sakti Mahardika berduet dengan Dalang  Aditya Krisna dengan apik. Cerita Banjaran Gatotkaca, merupakan cerita wayang purwa versi Mahabarata. Kisahnya tentang perjalanan hidup Gatotkaca mulai lahir, digodok di kawah Candradimuka, menjadi raja di Pringgodani hingga ia tewas saat melawan Kurawa dalam perang Baratayudha Jayabinangun. Gatotkaca, adalah putra dari Bima yang merupakan anggota Pandawa. Sedangkan ibunya adalah Arimbi.

Tapi persis dugaan saya, wayang adalah selera para orang tua, terlihat dari para penonton yang kebanyakan dihadiri para manusia setengah tua. Mereka seperti tak berkedip menyaksikan sabetan-sabetan dua dalang itu. Entah apa yang ada di hati mereka, yang jelas manakala sang Dalang melakukan aksinya, terdengar riuh rendah celoteh mereka. 

 

Gelaran itu kemudian sesekali diberi jeda. Saat itulah Pesinden muda yang saya perkirakan usianya tak jauh beda dari sang Dalang, mulai menyanyikan macapat pengiring. Berdandan cantik, dengan gelung di belakangnya, mereka duduk dengan bantuan dingklik kecil berwarna-warni yang dibungkus kain. Cara berpakaiannya juga khas para pesinden: berkebaya dengan tubuh bagian bawah dibungkus jarik atau kain batik panjang.

Kemudian lengkingan suara mereka bergantian meluncurkan tembang-tembang yang sudah diatur sebelumnya. Sosok Pesinden itu tak seperti pendahulunya yang kebanyakan masih bersandar pada pakem tradisional: tekun menyimak rekan pesinden lain ketika menyampaikan nyanyian itu. Gambaran generasi milenial yang akrab dengan dunia digital segera muncul. Manakala rekannya menembangkan lelaguan, Pesinden lainnya asyik dengan gadget yang selalu dibawa. Persis para pemuda masakini, sebentar-sebentar, mereka melirik perangkat digitalnya itu. Tentu saja, tak lupa memotret sendiri demi eksistensi.

 

Aktivitas multitasking seperti ini sedikitnya memberi gambaran, para Dalang hingga Pesinden masa kini tak juga didera aktifitas  dunia modern. Terlepas dari semua itu, dunia pewayangan tampaknya tak akan pudar seiring semakin gencarnya perkembangan teknologi informasi. Sepanjang generasi digital tak melupakan akar budaya yang ada sejak lama dan tetap berminat mempraktikkannya, pentas wayang kulit akan tetap ada.

 

(Madiun, 2017)