Berita

Suatu Pagi di Jogokariyan

Suyitno beserta 20 orang lain rela menempuh perjalanan lebih dari 100 kilometer untuk menyambangi Masjid Jogokariyan. dari Purbalingga, Jawa Tengah, ia bersama rombongan sejumlah 2 bus meluncur ke Masjid Jokokariyan sehari sebelumnya. Setelah bermalam di Masjid itu, pagi harinya mereka berencana untuk berjumpa dengan para pengurus Masjid Jogokariyan.

 

"Kami pengen belajar bagaimana mengelola masjid agar jamaahnya banyak seperti di Masjid Jogokariyan," ujarnya dengan logat Banyumasan. 

 

Ayah tiga anak ini memang tak sendiri. Sebagai pengurus Masjid Al Muhajirin, Purbalingga Wetan, Yitno -begitu nama panggilannya- merasa punya tanggungjawab besar dalam memakmurkan masjid. "Makanya seluruh pengurus masjid ikut buat tanya langsung ke pengurus Masjid Jogokariyan," papar ayah tiga anak ini bersemangat saat saya bertemu dengannya di lantai 2 Masjid Jogokariyan, Rabu (4/7). 

Obrolan singkat dengan Suyitno seolah membuktikan sohornya nama Masjid Jogokariyan yang terletak di daerah Mantrirejo, Jogjakarta  ini. Mendengar  namanya yang sudah kondang dan jadi pembicaraan banyak orang, Rabu (3/7) pukul 04.15, saya segera meluncur ke Jogokariyan. Beruntung, letak penginapan yang saya tempati di Prawirotaman, hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Masjid Jogokariyan. Hingga tepat pukul 04.30, suara adzan terdengar dari Masjid itu. 

 

Saya pun bergegas untuk masuk untuk mengikuti jamaah yang terlihat sudah ada di dalam. Persis seperti cerita yang saya dengar sebelumnya, jamaah shalat shubuh di Jogokariyan, tak ubahnya jamaah shalat jumat di berbagai masjid lain.  Tujuh shaf yang ada dalam masjid itu, terisi penuh. Beragam usia terlihat di sana. Sesuatu yang jarang terjadi di luar bulan Ramadhan. 

 

"Waktu Ramadhan, jalan Jogokariyan ditutup karena banyak pendatang yang beribadah di sana, " kata  Rian, sopir yang menemai saya berkeliling Jogjakarta sehari sebelumnya. Demi mendengar tambahan cerita dari Rian itulah kemudian saya berkunjung langsung ke masjid itu.

 

Ketenaran Masjid yang dibangun tahun 1966 tersebut tak hanya bagi lingkungan sekitar. Cobalah telusuri melalui mesin pencari di jagad dunia maya. Anda bisa menemukan segala cerita menarik perihal bagaimana masjid ini menerapkan manajemen yang apik sehingga diganjar sebagai salah satu masjid terbaik oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Serta sejumlah penghargaan lain yang menjadikan masjid ini rujukan kebanyakan masjid lain di Indonesia. Mengapa bisa seperti itu?

Pagi itu sayapun beruntung, selain adanya kunjungan para pengurus Masjid (ta'mir) Al Muhajirin, Purbalingga, Jawa Tengah, ada juga pengurus masjid dari Bogor, Jawa Barat. Selepas shubuh mereka dikumpulkan di ruang masjid untuk melakukan diskusi dengan pengurus Masjid Jogokariyan.

 

Sejenak setelah pembuka, pengurus Masjid Jogokariyan menjelaskan mengapa para jamaah bisa memenuhi masjid ini. "Yang terpenting adalah pola pikir kita sebagai pengurus masjid. Kita ini adalah pelayan Alloh yang bekerja di rumah Alloh. Sebagai pelayan ya harus melayani tamu-tamu Alloh. Tidak boleh arogan," kata pengurus tersebut.

 

Ia mencontohkan, ketika ada orang yang ingin buang hajat, karena letak masjid di pinggir jalan raya, maka biasanya orang itu mampir ke masjid untuk buang air atau hajat besar. "Karena itu kamar mandi dan WC di sini tak pernah dikunci. Mereka kan ke kamar mandi pasti karena ada kebutuhan, rasanya enggak ada yang ke kamar mandi hanya iseng. Bayangkan, kalau ditutup kamar mandinya bisa-bisa mereka buang hajat di sebelah masjid. Kalau begitu masjidnya jadi kotor. Makanya kita harus bantu itu dengan menyiapkan kamar mandi yang layak pakai, " jelas si Bapak pengurus masjid itu.

 

Sebagai pelayan Alloh SWT, si Bapak melanjutkan, mereka pun harus mempertanggungjawabkan apa yang diamanahkan oleh para 'tamu' Alloh alias para jamaah. Mulai dari penyaluran infak, hingga melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Ruang shalat tak boleh kotor, keamanan harus dijaga agar tidak ada yang kehilangan. Sehingga tamu Alloh itu tenang saat beribah di rumah Alloh. 

 

"Oleh karenanya, selain mengubah mindset juga perlu melakukan manajemen yang baik. Yang utama adalah siapa target jamaah kita dan bagaimana profil dari jamaah tersebut. Jadi kita tahu persis apa yang dibutuhkan oleh jamaah," jelasnya lagi.

 

Alhasil,  para ta'mir  Jogokariyan selalu mendata siapa saja jamaahnya, apa kesukaannya hingga bagaimana mereka melakukan ibadah. Apakah sudah melakukan shalat ke masjid atau belum. Bila belum shalat ke masjid segera dikirimi surat undangan. Pun demikian dengan pengumpulan infak dan sedekah.  

 

"Saldo kami targetkan untuk selalu nol. Jadi harus kami salurkan segera ke tempst yang tepat. Meski ada juga waktu-waktu di mana kas belum bisa nol tetapi kita targetkan harus nol. Sebab orang berinfak itukan ingin segera mendapat pahala dari infak atau sedekahnya. Kalau tertahan di kas masjid kan kasihan," tambahnya lagi

Soal database para jamaah ini, menurut si Bapak, merupakan kunci untuk  menelurkan kegiatan lain. Seperti pengajian, melakukan kajian agama hingga membuat acara keramaian. Katanya lagi, dengan database yang lengkap program yang dibuat sesuai acara para pelangaan. 

 

"Kalau peserta pengajiannya kebanyakan orang muda, tentu tak cocok membicarkan soal kematian. Meskipun kematian itu tak mengenal umur, tapi alangkah lebih menarik kalau temanya soal karir misalnya," papar si Bapak.

 

Kombinasi pola pikir yang melayani ditambah database yang lengkap membuat Masjid Jogokariyan ini begitu apik dalam pengelolaannya. Tak mengherankan kalau cara masjid ini coba diduplikasi oleh para pengurus masjid lain di nusantara.  

 

"Kami pengin Masjid Al Muhajirin di Purbalingga Wetan jamaah shubuhnya sebanyak di Masjid Jogokariyan. Biar masjid semakin makmur," sebut Suyitno menutup pertemuan pagi itu dengan saya. 

 

(Jogjakarta,2017)