Berita

Cerita Perawat Satwa

 

Betapa riangnya Hayra (3 tahun)  menyaksikan aksi 'keluarga' siamang (Symphalangus syndactylus) bercengkrama. Sepasang Siamang yang punya tiga anak itu terlihat semangat menerima buah-buahan dan sayuran yang diberikan Namin (43 tahun), di kebun Binatang Ragunan, Sabtu (8/7).

 

"Sekarang  (pukul 09.00) memang jadwal makan mereka. Untuk pagi, buah-buahan dan sayuran. Nanti jam 12 siang, cemilan kayak roti, dan makanan ringan lain. Jam 3 sore, buah-buahan dan sayuran lagi," sebut Namin sesaat setelah memberi makan Siamang koleksi Kebon Binatang Ragunan ini.

 

Namin adalah perawat satwa. Ia bercerita, merawat Siamang seperti halnya merawat anak manusia. Mulai jam makan, hingga jenis makanan harus dilakukan secara teratur. Belum lagi untuk menjaga agar Siamang tetap prima. Ia bilang, kebanyakan penyakit manusia, bisa menularkan langsung ke Siamang yang masuk dalam keluarga Primata itu. Mulai sakit yang disebabkan kuman seperti tubercoluses (tbc), hepatitis hingga penyakit mata. Oleh karena itu, Siamang dan keluarga besarnya selalu mendapat pemeriksaan rutin untuk kemudian diberikan vaksin. 

 

"Jadi kami para perawat satwa juga mendapat perawatan yang sama. Setiap tiga bulan diperiksa dan dikasih vaksin. Diperiksa semuanya, biar enggak ada penyakit yang nularin Siamang. Pernah ada yang sakit mata, enggak lama Siamang  juga kena sakit mata. Makanya, harus hati-hati," sebut ayah tiga anak ini.

 

Namin melanjutkan, sejak 12 tahun merawat Primata -sebelumnya ia merawat gorila di pusat primata Schmutzer- penyakit Siamang yang mematikan sebenarnya adalah rasa stress hewan tersebut terhadap lingkungan sekitar. Makanya, untuk menjaga agar tidak stress, ia harus rajin mengunjungi Siamang agar terbiasa dengan kehadiran manusia. 

 

"Kalau sudah stress biasanya akan mencret-mencret, itu obatnya agak susah, enggak semua obat dokter cocok. Saya pernah merawat Siamang stress terus mencret-mencret sampai akhirnya malah sembuh setelah saya kasih ramuan sendiri pakai garam," ujarnya.

 

Pernah suatu masa, ia harus merawat Siamang hingga tidur di kandang. Pasalnya, Siamang yang menderita sakit mencret itu, tak mau lepas dari pelukan Namin. Saban ia hendak keluar kandang karantina, Siamang menariknya kembali dan bergegas memeluk tubuh Namin. 

 

"Persis merawat anak manusia. Kita harus cebokin sampai kasih makan. Ditinggal enggak bisa, jadi harus terus nemenin dalam kandang," tuturnya lagi dengan mimik serius. 

 

Dua belas tahun menjadi perawat satwa membuat Namin seperti dikenali para Primata di sana. Saban ia memanggil nama-nama hewan itu, mereka langsung mendekat. Mengawali sebagai tukang sapu di Kebon Binatang Ragunan, Namin kemudian dipercaya untuk merawat Gorila muda di Schmutzer. Warga jalan Jagakarsa itu kemudian dipindahkan ke kandang Siamang yang berada di sebelah selatan area kebun binatang. 

 

"Sebenernya saya hobi masak. Saya pernah menjadi tukang masak di beberapa tempat. Seperti Restoran ayam bakar SM sebelum akhirnya restoran itu tutup. Terus pernah juga kerja di restoran lain. Sekarang saya masih bikin ayam dan ikan bakar buat di jual," sebut lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Cilandak, Jakarta Selatan itu. 

 

Kelahiran 43 tahun lalu ini mengaku punya keahlian memasak lantaran ia memang hobi dalam dunia racikan bumbu itu. Sebelum berangkat untuk ke merawat hewan di kebun binatang, ia sudah menyiapkan aneka bumbu untuk membuat ayam panggang dan ikan bakar. Kemudian untuk operasional warung makan miliknya, ia serahkan pada adiknya. 

 

"Jadi tinggal bakar aja. Mau bumbu asam manis atau bumbu rujak juga tersedia," tambah Namin yang sejak lahir berada di kawasan Jakarta Selatan ini. 

 

Lantas mengapa ia memilih untuk mengurusi danmerawat biantang di keboun binatang ini? "Namanya juga pekerjaan selama halal ya kerjakan aja. Lagipula saya juga suka merawat binatang-binatang ini. Suka kasihan kalau ngeliat mereka terlantar," tutupnya seraya berpamitan untuk kemudian melakukan tugas rutinnya membersihkan kandang Siamang di lain tempat. 

 

(Ragunan, 2017)