Berita

Membaca Turki Dalam Sehari

 

Naim Süleymanoğlu yang memperkenalkan Turki kepada saya pada tahun 1988. Bukan. Dia bukan teman apalagi saudara. Saya hanya pengagum  lifter angkat berat  yang  berjuluk "The Pocket Herculles" . Tahun 1988, dia menyabet gelar juara dunia dengan angkatan total mencapai 190 kilogram -tiga kali berat tubuhnya yang hanya 62 kilogram. Lelaki bertubuh tinggi 142 cm, kelahiran Bulgaria ini adalah pemegang paspor Turki. Sejak itulah saya mencari tahu, seperti apa sih Turki itu?

 

Tak mudah. Selain akses informasi yang terbatas pada masa itu, juga tak banyak media yang memberitakan dan menguak apa dan bagaimana Turki. Kebanyakan media arus utama melihat Turki sebagai negara sekuler. Mereka memisahkan agama dengan kehidupan bernegara. Adalah Mustafa Kemal Attaturk menerapkan paham sekularisme di negeri itu. Hingga saya nyaris tak paham, Turki di masa silam adalah pusat pemerintahan Daulah Ustmani yang menguasai 2/3 dunia.

 

Semua menjadi jelas, ketika tiga puluh tahun berselang,  sahabat saya, Marfuah Panji Astuti yang karib disapa Uttiek,  merilis buku kedua dari tiga serial catatan perjalanannya bersama Herlambang -sang suami- berjudul: "Journey to The Greatest Ottoman (JGTO)."

 

Seperti buku pertama yang diterbitkannya, "Journey To Andalusia", membaca buku yang mengupas perihal kekuasaan kesultanan Daulah Ustmani ini seperti membawa kita ke situasi masa silam. Uttiek yang juga jurnalis kawakan ini  tak alpa mencatat secara detail apapun yang dijumpainya. Seperti ketika ia menceritakan aneka kebab yang dicicipinya.

 

"...Ada 4 pilihan isian untuk kebab, yaitu ayam (tavuk), sapi (dana), domba (kayun), dan kambing (davar). Sebungkus doner kebab yang lezat harganya 3-5 TL atau Rp10.500-17.500. Selain doner kebab, ada juga iskender kebab dan adana kebab. Perbedaannya dengan doner kebab adalah bahan yang digunakan, serta cara penyajiannya." (Hal 31-32).

 

Pun demikian ketika ia menjelaskan perihal peninggalan-peninggalan masa silam yang kemudian mempengaruhi peradaban manusia. Misalnya saat ia mengunjungi Blue Mosque atau Sultan Ahmed Camii (nama asli masjid itu). Tumpukan kubah-kubah di masjid itu digambarkan seperti kelopak bunga yang saling menyangga. (Hal 75-79)

 

Dalam menjelaskan, selain detail yang diceritakan, Uttiek tak lupa memberikan keterangan lanjutan dengan bekal referensi buku-buku dari para penulis pendahulu.Antara lain buku "Sejarah Umat Islam"  (1994) yang ditulis Buya Hamka; "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" (2014) yang ditulis leh Ali Muhammad Ash-Shalabi dan juga "Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia" karya Pro. DR. Raghib A-Sirjani. Pada buku ini, ia mengutip bagaimana kubah-kubah itu merupakan salahsatu sumbangan ilmuwan muslim pada dunia, mengingat perhitungan kubah tidaklah mudah.

 

Cerita yang diperkaya dengan referensi juga diperlihatkan ketika buku ini membahas bagaimana Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih menaklukan Konstantinopel untuk kali pertama dengan membentuk pasukan khusus Inkisyariah yang terorganisir dengan rapi dan menerapkan strategi  jitu. Ia  membagi pasukan dalam batalion-batalion tersendiri, membuat pasukan Raja Constantine kewalahan, sehingga akhirnya pada tahun 1453 Konstantinopel berada di bawah kekuasaan Daulah Utsmani. Sayang Mustafa Kemal Ataturk mengakhiri Daulah ini pada tahun 1932 Dengan menumbangkan Sultan Abdul Hamid II.

 

Tak hanya bacaan  yang mendukung cerita itu, buku ini tampaknya juga ditujukan untuk 'meluruskan' sejarah bagaimana ketika islam berkuasa, penduduk daerah taklukan bisa hidup dengan tentram bukan sebaliknya seperti yang diganungkan para orientalis Barat. Seperti kisah pembentukan pasukan Inkisyariah yang di Barat didengungkan sebagai bentuk 'kerja paksa' kepada anak-anak, nyatanya pasukan itu dibentuk dengan sukarela ditawarkan kepada anak-anak korban perang. (Hal 71).

 

Dalam dunia kuliner, buku ini juga menyajikan informasi menarik. Misalnya cerita awal mula ditemukannya sirop (hal 160) dan juga kedai kopi (hal 158). Khusus kedai kopi ini, jauh sebelum orang eropa atau Amerika mengenal kongkow di kedai kopi, para sufi semasa Daulah Utsmani, sudah membangun kedai kopi di abad 14. Tujuannya agar para sufi tetap 'melek' ketika mengagungkan namaNya.

 

Singkat cerita, membaca buku ini membuat saya lebih paham bahwa Turki bukan sebatas Naim Süleymanoğlu, sang Herculles mini yang mengguncang dunia dengan kekuatan angkatan clean and jerk. Turki adalah 'jantung' kekuasaan Daulah Utsmani yang pernah menguasai 60 negara di dunia, termasuk Nusantara.

 

Selamat membaca! (Setu Babakan, 2017)