Berita

Perempuan

 

 

Hayra dan Kaila. Begitu dua perempuan cilik yang siang tadi asyik bermain boneka di rumah saya. Kalau merujuk pada apa yang dituliskan laman Katadata.co.id  mengutip  hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS), kedua perempuan ini belum masuk usia produktif.  Terang saja, karena di Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-64 tahun.  Sementara keduanya masih berusia di bawah 15 tahun.

 

Walau demikian, entah itu kecil, remaja, dewasa, ataupun tua keduanya adalah Perempuan: makhluk yang diciptakan Allah SWT sebagaimana juga Lelaki. Namun demikian,  akhir-akhir ini seringkali saya dengar Perempuan menjadi perdebatan terutama tentang kedudukannya di tengah masyarakat. Ada yang menggangap Perempuan tak ubahnya pelayan Lelaki, namun tak sedikit pula yang menyebutkan justru tanpa Perempuan, Lelaki bakal sempoyongan. Bukankah ada kata bijak yang menyebutkan: Setiap Lelaki sukses, ada Perempuan di belakangnya.

 

Lalu saya memihak siapa? Perkara ini tak maulah saya masuk dalam perdebatan perihal kesetaraan gender, apa sebab?  Pertama: saya bukanlah ahli dalam bidang gender, sehingga rasanya tak pantas untuk mengomentari kedudukan Perempuan dan Lelaki di dalam masyarakat.

 

Berikutnya: sebagai laki-laki, saya bukanlah perempuan! Nah, kalau itu terkadang masih ada yang salah. Gara-garanya, sebagai Lelaki saya menyandang nama Rizka, sehingga kerap kali orang yang baru mengenal saya terheran-heran dan langsung berkomentar:  "Maaf, saya kira Perempuan. Soalnya saya juga punya teman namanya Rizka tapi perempuan," jelas lawan bicara saya. Boleh jadi dia semakin heran, karena Rizka yang ini, andai lupa cukur, seluruh pipinya dipenuhi rambut.

 

Atas permintaan maaf itu, saya terkadang hanya tersenyum. Kali lain, saya juga menjawab: "Enggak apa, biasa itu," tutur saya tergelak agar lawan bicara tak terus-terusan tersipu malu.

 

Nah, kembali soal bagaimana kedudukan Perempuan dan Lelaki di tengah masyarakat, bagi saya yang awam perihal kesetaraan gender ini sempat membaca apa yang diutarakan Almarhum Prof. Dr. Hamka, salah satu Kyai yang termahsyur di Indonesia.

 

“Orang baik di antara kamu ialah orang yang baik terhadap ahlinya; dan aku sendiri adalah baik terhadap ahliku. Perempuan adalah orang yang mulia dan tidaklah menghinakan perempuan, melainkan orang yang hina jua," begitu Prof. Dr. Hamka mengutip dari hadis Nabi Muhammad SAW yang dituangkan dalam karya tulisnya: Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan (Gema Insani, 2014).

 

Berhubung saya adalah seorang muslim yang berpanduan pada kitab suci Al-Quran dan juga hadis (perkataan, perbuatan, tindakan, dan sifat Rasulullah SAW), demi membaca tulisan itu, tak maulah saya menjadi orang yang hina karena menghinakan Perempuan. Apalagi, sebagai Lelaki, hidup saya tak bisa lepas dari Perempuan. Terlahir dari rahim Perempuan. Dirawat hingga besar oleh Perempuan. Kini pun beristri Perempuan yang melahirkan anak Perempuan lucu maupun anak Lelaki tangguh di rumah saya.

 

Maka, saya pun tak habis pikir, ketika mendengar ada yang masih melihat Perempuan lebih rendah derajatnya dari Lelaki. Sungguh saya heran!

(Kemang, 2017)