Berita

Antara Jamu dan Keong Sawah

 

"Wah bagus deh pemerintah bergerak juga," tutur Lelaki berkemeja cokelat kepada rekannya dengan nada lega.

 

"Kenapa Mas?" tanya rekannya itu.

 

"Ini saya dapat di grup, ada edaran dari Kementerian Kesehatan RI, soal pencegahan Kejadian Luar Biasa difteri," jawab si Kemeja Cokelat itu lagi.

 

Agar jelas, ia menyodorkan foto surat edaran Surat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. SR.02.06/II/3150/2017, tertanggal 6 Desember 2017. Surat itu berisi perihal Pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di seluruh Indonesia terkait adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri yang merebak di wilayah Jakarta, Tangerang hingga Banten.

 

Demi mendapat sodoran surat itu, rekan si Kemeja Cokelat yang kebetulan berdinas sebagai peneliti mula di Fakultas Ilmu Kesehatan salahsatu perguruan tinggi negeri di Jakarta, seperti mendapat angin.

 

"Ohh soal itu. Iya Mas, memang difteri lagi jadi pembicaraan kami di kampus. Kasus ini kembali muncul," sergahnya.

 

Tanpa diminta, si Peneliti Muda ini menjelaskan. Ia mengutip laporan World Health Organization (WHO) tahun 2016, ia menyebutkan, kasus difteri di Indonesia dilaporkan sebanyak 342 kasus. Dalam 5 tahun sebelumnya (2011-2016) total kasusnya mencapai  3.353, menempatkan Indonesia menjadi negara ke-2 dengan kasus terbanyak setelah India.

 

Belum sempat bertanya, si Kemeja Cokelat sudah diberondong dengan penjelasan lanjut. Kata Peneliti Muda itu lagi, serangan bakteri Corynebacterium diphtheriae ini memang tak bisa dianggap enteng. Dalam laporan WHO, dari 3.353 kasus, sebanyak 110 orang harus meregang nyawa.  Bakteri ini menginfeksi saluran pernapasan dan membuat  si penderita bakal kesulitan bernapas lantaran tertutup lendir yang terkadang bercampur darah. Celakanya, penyakit ini mudah sekali menular. Melalui air liur, bersentuhan (karena juga bisa menginfeksi kulit dan menjadi luka borok yang sulit disembuhkan), serta melalui udara. Tak heran, untuk penanganannya harus menempatkan penderita di ruang isolasi.

 

Lebih mengkhawatirkan lagi, Peneliti Muda meneruskan, tak hanya persoalan pernapasan yang bakal digempur bakteri ini. Dampak lanjutannya bisa menjadikan radang paru-paru lantaran kemasukan selaput yang terbentuk dari  sel-sel mati akibat terkena racun bakteri tersebut. Selain radang paru-paru, racun dari bakteri difteri bisa juga masuk ke jantung mengakibatkan peradangan otot jantung. "Apa jadinya bila otot jantung meradang? Dipastikan si pemilik jantung bisa segera menghadap Yang Maha Kuasa," cetus si Peneliti Muda dengan antusias.

 

Bagai di atas podium, ia meneruskan. Sesungguhnya penyakit ini bisa dicegah. Dalam bidang medis sudah ditemukan pencegahan dengan vaksin Diptheria, Tetanus, and Pertusis (DPT) yang diberikan pada saat balita. Dengan aturan yang sudah ditetapkan, pemberian vaksinasi ini kemudian dapat mencegah serangan bakteri tersebut. Sayangnya, salahsatu penyebab utama adanya KLB baru-baru ini, lantaran banyak orang di Indonesia yang tidak mau melakukan langkah vaksinasi DPT. Berbagai alasan diberikan, mulai soal urusan dengan agama, hingga memang tak tahu mau ke mana.

 

Vaksin ini pada dasarnya adalah bakteri itu sendiri yang sudah 'dilemahkan' sehingga membantu tubuh manusia menghasilkan antibodi terhadap bakteri itu. Namun dalam pembuatannya, dilakukan dengan cara-cara yang dianggap tak sesuai dengan keyakinan sebagian orang. Sehingga saat mau divaksin, mereka tak berkenan. Padahal, vaksin secara medis sudah terbukti bisa mencegah penyakit ini.

 

"Dalam pengobatan tradisional sebenarnya ada Mas. Penggunaan buah mengkudu yang dicampur dengan jinten serta daun sembung, bagi masyarakat tradisional merupakan salahsatu obat yang kerap dipakai. Tetapi, untuk jamu ini tingkat akurasinya masih dipertanyakan, meski sudah banyak peneliti herbal meyakini tak kalah dengan obat medis."

 

"Kalau begitu,  langkah Kementerian Kesehatan seperti dalam surat edaran itu bagus kan?" tanya si Kemeja Cokelat.

 

"Ia bagus Mas. Apalagi yang dipakai untuk pencegahan adalah vaksin yang sudah teruji secara medis. Tidak seperti salahsatu kementerian yang menganjurkan orang makan keong sawah lantaran tidak bisa membeli daging. Jelas pernyataan yang ceroboh dari pembantu pimpinan negari ini. Apa iya, gizi dari keong sawah bisa mengganti kandungan gizi dari daging?" ujar Peneliti muda dengan nada sedikit meninggi.

 

Atas penjelasan itu, giliran si Kemeja Cokelat yang terbengong-bengong. "Kok jadi ngomongin keong sawah?" tuturnya membathin.

 

(Lebak Bulus, 2017)