Berita

Wahai Santri: Apa Yang Kau Cari?

Memasuki area Pondok Pesantren Darussallam di Desa Gontor, terpampang tulisan besar yang ditempel pada dinding asrama: "Wahai Santri-Santri NU, Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?" 

 

Pak Gandung, pengemudi yang mengantar saya bergega menghentikan mobilnya di di depan kantor administrasi, tepat di seberang asrama yang memampangkan tulisan itu. "Itu kantor administrasinya, silakan ke dalam pak," sebut Gandung. 

 

Layaknya tamu, selepas keluar dari kendaraan yang mengantar, bergegas saya menuju ruang administrasi tersebut. Ruang itu sederhana saja. Di dinding berjejer foto para pendiri Ponpes Darussallam, beserta para pengajar. Tepat di depan meja penerimaan tamu, sudah berdiam dua lelaki berseragam biru.

 

"Assalamualaikum, " sapa saya.

 

"Waalaikum sallam," jawab dua lelaki itu kompak.

 

Percakapan berlanjut. Saya menanyakan perihal seluk-beluk Ponpes tersebut. Mulai dari kegiatan keseharian, hingga aneka mata pelajaran. Secara bergantian, keduanya menimpali menjawab semua pertanyaan. Hingga pada akhirnya, terlontar juga pertanyaan persis dengan apa yang terpampang di asrama itu. 

 

"Kalian cari apa di Gontor?" tanya saya kepada lelaki yang sedikit berkumis. 

 

"Saya pengen belajar agama lebih dalam," ujar lelaki berkumis yang mengaku dari Parung, Jawa Barat.

 

"Kalau saya pengen lebih mandiri," timpal lelaki satu lagi yang mengaku dari Medan dengan logat khas melayu-nya.

 

Sepanjang berbincang dengan keduanya, tak sedikitpun saya menangkap apa yang dikejar dalam urusan kesuksesan dunia semata.  Keduanya bisa jadi tak mewakili dari sekitar  1.500 santri yang ada di Ponpes berusia lebih dari 90 tahun itu. Namun demikian, bagi saya, cukuplah keduanya menggambarkan apa yang ada di benak mereka. 

Ustadz Riza, begitu nama salahsatu pengurus di Ponpes Darussallam yang hari itu  29 Rabiul Awal 1439 hijriyah (Senin, 18 Desember 2017), mengajak saya berkeliling Ponpes. Ia membawa saya untuk melihat-lihat seluruh isi Ponpes berikut dengan penjelasan singkat.

 

Layaknya tour guide, ayah tiga anak yang juga salahsatu keturunan dari pendiri Ponpes Darussallam ini sangat bersemangat menjelaskan, lokasi demi lokasi. Mulai asrama tempat para santri mondok, hingga beberapa bisnis yang dijalankan Ponpes ini untuk menghidupi lebih dari 1.500 santri.

 

"Gontor punya bisnis pengolahan air namanya Air Mineral La Tansa. Kami juga mengelola transportasi untuk tour. Kami sudah punya satu bus besar dengan tiga bus kecil. Selain itu juga ada minimarket. Jadi bisnis-bisnis inilah yang membantu untuk kegiatan santri," tuturnya.

 

Santri memang dididik secara mandiri. Untuk santri kelas 1 (setingkat SMP) yang baru masuk dari sekolah dasar, di tempatkan dalam asrama yang dihuni sekitar 18-24 orang setiap asramanya. Keberadaan mereka dipisahkan dari kakak kelasnya. Setiap siswa mendapat giliran untuk membersihkan ruang asrama, sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Mulai dari membersihakn ruang asrama, hingga membuang sampah di halaman. 

 

Setiap hari, kecuali Jumat yang merupakan hari libur di Ponpes ini, siswa memulai aktivitas sejak sebelum waktu shubuh. Selepas bangun tidur, dan berbersih diri, mereka diwajibkan membaca Al-Quran di muka asrama. Kemudian memasuki shubuh, shalat berjamaah di masjid. Lepas shubuhan, dilanjutkan dengan membaca Al-Quran, kemudian melakukan kegiatan rutin semacam mencuci pakaian dan mandi. 

Pukul 08.00 pelajaran dimulai hingga memasuki waktu dzuhur. Selepas shalat, lanjut dengan makan siang dan istirahat hingga memasuki ashar.  Setelah shalat sejenak, kemudian  dilanjutkan dengan aneka kegiatan bebas hingga masuk waktu maghrib. Kelar maghrib, makan malam lanjut dengan shalat isya, dan kemudian belajar lagi hingga pukul 21.30. Istirahat dan besok berulang kembali.

 

Sore itu, beruntung saya bisa mengikuti shalat berjamaah di masjid Gontor. Ratusan santri lengkap dengan peci dan sarung (saya tak melihat ada yang shalat dengan mengenakan celana panjang) berbaris rapi untuk mengikuti shalat ashar berjamaah.

 

Selepas ashar, masing-masing santri kemudian membentuk kelompok sesuai dengan tingkatannya. Tujuannya untuk melanjutkan pelajaran dengan menghapal Al-Quran. "Setelah itu mereka bisa berolahraga atau melakukan kegiatan lain. Seperti ikut beladiri, hingga gymnastic. Di sini ditekankan, santri bisa menjadi apa yang mereka inginkan, jadi silakan bebas menentukan apa kegiatan yang mereka suka. Gontor memang ingin santri-santrinya lebih mandiri dan tidak silau terhadap dunia. Kalau di sini berharap bisa menjadi tenar secara dunia, ya bukan itu tujuannya," tutur Ustadz Riza kemudian.

 

Mendengar kalimat terakhir itu, tiba-tiba timbul ingatan saya pada perkataan salahsatu rekan di Jakarta. Mencari akhirat, insya Allah dunia juga di dapat.

 

Wahai santri, inikah yang kau cari??

 

(Ponorogo, 2017)