Berita

Suatu Malam Di Masjid Laweyan

Lepas membaca buku catatan perjalanan rekan saya Hajjah Marfuah Panji Astuti atau kerap disapa Uttiek menuju Al-Aqsa, ingin rasanya bisa melancong ke sana. Selain sebagai tempat suci, banyak kisah perjuangan kaum muslim di sana. Al-Aqsa juga sebagai tempat dimana pusat peradaban muslim berkembang. Layaknya Masjid, tempat itu menjadi lokasi penebar manfaat bagi seluruh umat muslim. 

 

Namun apa boleh buat, belum ada kesempatan dan juga rezeki memadai untuk mengunjungi tempat di mana Nabi Muhammad SAW melakukan mi'raj dan juga sempat dijadikan qiblat bagi kaum muslim tersebut. Demi 'memuaskan' keinginan tersebut, bolehlah menyambangi tempat-tempat ibadah muslim yang punya nilai sejarah penting. Seperti salahsatunya terletak di Surakarta. 

 

Selepas maghrib, bersama Syafiq, anak kedua saya bergegas untuk berangkat menuju Masjid tertua di Surakarta/Solo. 

 

"Aku pakai celana panjang aja ya," ujarnya.

 

"Iya, biar praktis aja," sahut saya.

 

Malam itu kami memutuskan untuk mengunjungi Masjid Laweyan yang terletak di daerah Laweyan, Solo untuk melaksanakan shalat isya. Tak ada petunjuk sebelumnya, berbekal kata kunci 'masjid tertua di Solo', sekejap muncul di laman pencarian nama masjid ini.  Masjid yang berusia hampir lima abad ini, terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo.  

 

Kristanto, pembecak yang mengantar kami mengaku tahu letak masjid itu. Ditemani gerimis, bergegas  meluncur ke lokasi masjid itu. Berdasar pengukuran peta digital, jarak dari hotel tempat saya menginap dengan masjid berkisar 3 kilometer. Selang 20 menit, becak tiba di daerah Laweyan. Untuk mencapai Masjid itu, kami harus menyusuri jalan selebar kurang lebih 3 meter. Tepat di ujung jalan, seberang jembatan, tampaklah sosok Masjid itu.

 

"Benarkah itu Masjid pertama di Surakarta?" Tanya saya dalam hati.

 

Sejumlah literatur menyebutkan, arsitektur Masjid ini seperti perpaduan antara Hindu dan Islam.  Bangunan utamanya tidak besar, hanya 162 meter persegi. Namun demikian, masjid tertua di Kota Solo ini, menyimpan cerita menarik. Berdasarkan plang yang berdiri di depan Masjid, tertulis singkat asal muasal berdirinya Masjid ini. Dikabarkan, adalah Ki Ageng Henis, salah satu sahabat Sunan Kalijaga, yang menjadikan tempat ini Masjid.

 

Didirikan pada tahun 1546 masehi semasa Kerajaan Pajang, jauh sebelum adanya kota Surakarta yang berdiri tahun 1745. Masjid ini dahulu adalah Pura tempat sembahyang pemeluk Hindu. Didirikan oleh Ki Beluk sang pemilik. Namun begitu, lantaran perilaku dan akhlak yang baik Ki Ageng Henis dalam pergaulan dengan Ki Beluk, akhirnya secara sukarela Ki Beluk -yang juga memeluk islam- mewakafkan tempat itu menjadi mushalla. 

 

Perihal sejarah Masjid ini boleh jadi perlu penelusuran lebih mendalam. Rasanya perlu ada literatur yang bisa memastikan bagaimana Masjid itu didirikan dan fungsingya dalam penyebaran islam di Jawa. Oleh karena itu, baiknya ranah sejarah tak perlu saya ceritakan lebih jauh. 

 

Nah, setibanya kami di sana, tak kama kemudian suara adzan isya berkumandang. Lelaki berpeci kupluk yang saya perkirakan berusia 60 tahunan, melantunkan seruan shalat di depan pengeras suara.  Bergegas masyarakat sekeliling berdatangan. Ada juga yang tampaknya sedari tadi selepas maghrib sudah duduk--duduk menanti isya datang. 

 

Ruang wudhu pria yang berada di utara Masjid disesaki para jamaah, mengingat hanya ada 10 keran, maka bergantian untuk berwudhu. Jeda waktu 10 menit antara adzan dan iqamah dimanfaatkan jamaah untuk shalat sunnah. Begitu iqamah dilantunkan, tanda shalat dimulai, seluruh jamaah membentuk dua shaf (sekitar 30 orang). Untuk menunaikan shalat isya dipimpin imam.

 

Singkat cerita, isya selesai. Tak seperti di Masjid di dekat tempat tinggal saya di Jakarta. Para berjamaah berdzikir tanpa dipimpin imam. Pun demikian berdoa setelah shalat yang dilakukan sendiri-sendiri. Hingga konsentrasi sedikit terpecah manakala tepat di sebelah kami, meluncur sesosok tangan yang menggenggam sekotak nasi goreng menyorongkan kepada kami. 

"Monggo mas buat makan malam," seru lelaki yang mengaku bernama Sutarto. 

 

"Terima kasih pak," jawab saya setengah keheranan.

 

"Kalau mau lagi silakan ambil dalam kardus ini ya," ujarnya menambahkan.

 

"Cukup pak, ada  acara apa?" Tanya saya lagi.

 

"Ndak mas, ini setiap malam Rabu memang ada sedekah dari jamaah," ujarnya menjelaskan.

 

Takmir Masjid menjelaskan, sedekah ini memang sudah menjadi tradisi sejak lama. Mereka tampaknya mengerti betul, banyak para pendatang yang sengaja shalat di tempat itu. Maklum, tak jauh dari Masjid itu ada pemakaman Ki Ageng Henis beserta kerabat keraton Surakarta. Seperti halnya budaya Jawa, pada malam-malam tertentu ada saja peziarah yang datang untuk mengirimkan doa. 

 

Tetapi malam ini, tak ada siapapun peziarah ke sana. Pada Rabiul Awal, bukanlah waktu-waktu yang biasa untuk berkunjung. Malam ini, selepas isya, pemakaman sepi belaka. Ditemani gerimis, kami bergegas untuk segera pamitan. 

 

"Matur nuwun pak Tarto, kami pamit. Assalamualaikum," tutur saya

 

"Waalaikum sallam, monggo Mas," jawabnya.

 

Di luar masih gerimis, Kristanto, pembecak yang masih menanti kami terlihat meringkuk dalam becaknya. Ia segera bangkit setelah mendengar saya memanggilnya. Syafiq, anak saya, melirik sejenak ke arah saya sembari berkata:

 

"Dua kotak nasi gorennya kasih ke Pak Becak ya yah? " katanya.

 

Saya mengangguk tanda setuju. Saya berharap, dua kotak nasi berkat bisa menghangatkan tubuh Kristanto yang kecil. 

 

"Alhamdulillah... Matur suwun Mas," katanya sembari tersenyum. Segera ia simpan di bawah jok penumpang.  Setelah merapikan, ia mempersilakan kami berdua masuk ke dalam becaknya. "Monggo mas, saya antar lagi ke hotel," ujarnya.

 

Dalam hati saya berucap: Tak ubahnya Masjid Al-Aqsa, Masjid Laweyan tampaknya juga menebarkan manfaat baik bagi umat di sekelilingnya. Seperti yang dirasakan Krsitanto malam itu. 

 

(Laweyan 2017)