Berita

Masjid Ageng Solo, Riwayatmu Kini

Syafiq sesekali menoleh ke samping kanan dan kiri. Lepas shalat dhuhur berjamaah di Masjid Ageng Surakarta Hadiningrat (20/12), dia mulai mempersiapkan kameranya. Dibekali lensa 16-35 mm, ia mulai bangkit dari tempatnya melakukan tahiyat akhir, untuk berburu momen agar bisa diabadikan oleh kameranya itu.

 

"Ayo Yah, kota ke belakang, masih banyak yang mau shalat, gantian. Sekalian aku mau lihat-lihat," ajak lelaki usia 11 tahun ini.

 

Bergegas kami ke ruang pendopo, terlihat sejumlah orang sedang sibuk dengan kegiatannya. Ada yang berdzikir, ada pula yang hanya sekadar rebahan melepas penat. Tepat dekat pintu keluar, terlihat seorang lelaki yng sedang memberikan tausiyah. 

 

"Bukan cuma tempat shalat ya Yah?" Kata Syafiq lagi.

Yang ditanya hanya tersenyum sembari mengangguk. "Kalau yang Ayah tahu, Masjid ini memang juga dipakai buat bermacam kegiatan. Utamanya buat shalat, tapi juga ada tempat buat belajar," kataku.

 

Sembari berkeliling, kembali saya sedikit ungkap perihal asal muasal Masjid ini didirikan. Adalah Paku Buwono III yang memprakarsai didirikannya Masjid ini. Ada yang menyebut dimulai tahun 1763-1768. Namun ada juga yang menyebutkan prakarsa awal ketika Paku Buwono II berkuasa dan memindahkan Ibu Kota dari Kartosura ke Surakarta. Selepas Paku Buwono  II wafat, digantikan Paku Buwono III yang membangun Masjid ini. 

 

Sejarah panjang mengenai berdirinya Masjid ini banyak diulas para sejarahwan maupun pelancong dalam dan luar negeri. Satu hal yang ingin saya sampaikan pada anak saya ini, bahwa Masjid Ageng Surakarta Hadiningrat didirikan tak hanya sebagai sarana tempat peribadatan, tetapi lebih dari itu, Masjid ini tampaknya ingin difungsikan sebagai pusat peradaban maupun pusat penyebaran ilmu pengetahuan. 

 

Persis seperti apa yang dilakukan Rasullullah SAW, ketika membangun Masjid Quba maupun Masjid Nabawi. Di kedua Masjid itu juga dijadikan sebagai pusat pendidikan hingga 'rumah sakit'. Di Masjid pula tempat menyusun strategi pertempuran hingga strategi dakwah untuk disebar ke seluruh penjuru dunia.

 

Untuk pendidikan, sejak lama sudah didirikan pusat pembelajaran yang kini letaknya di sebelah selatan Masjid. Dulu, untuk menjadi pengurus Masjid semacam Tafsiranom, dan Muadzin, harus mengikuti pendidikan di sekolah ini. Setelah dinyatakan lulus baru boleh menjadi pengurus Masjid.

Diwajibkannya mengikuti pendidikan semacam itu, dimaksudkan agar pengurus juga punya bekal untuk memberi pengajaran kepada jamaah lain. Selain itu, para pengurus juga diangkat sebagai abdi dalem keraton yang mendapat bayaran dari keraton. Sekolah itu kini masih dipertahankan. Meski tak lagi dikelola oleh keraton -pengelolaan oleh kementerian agama- toh adanya sekolah atau madrasah itu membuktikan bahwa fungsi Masjid bukanlah sekadar tempat ibadah mahdhah (ibadah ritual seperti shalat), tetapi sekaligus difungsikan sebagai tempat pengembangan ilmu.

 

Masjid yang sempat mengalami beberapa kali renovasi itu -salahsatunya dilakukan oleh menteri Agama RI, Munawir Sadzali pada tahun 1985- juga membangun perpustakaan di komplek Masjid seluas 1,9 hektare itu. Sayang di dalamnya saat berkunjung ke sana tidak bisa terlihat apa saja koleksi buku yang dimiliki. 

 

Masjid sebagai pusat ekonomi juga diperlihatkan dengan letaknya yang berdampingan dengan pasar Klewer. Pasar yang khusus menyediakan aneka busana itu sebelumnya sempat direnovasi lantaran terkena musibah kebakaran. Sayangnya kebakaran itu membuat bentuknya menjadi lebih modern dengan bangunan beton layaknya pusat perbelanjaan di Jakarta.

Lepas dari bentuk bangunan, tetapi adanya pasar mengisyaratkan bahwa Masjid  Ageng  Solo ini pada masa silam dan hingga kini, masih berhasil difungsikan sebagai tempat interaksi maupun sosialisasi para umat muslim sekaligus sebagai syiar ke pelosok negeri. Ini sekaligus menggambarkan bahwa ibadah itu tak hanya sebatas ritual semata. 

 

Teringatlah saya pada salahsatu pemikiran dari Muhammad Natsir, tokoh politik Indonesia masa silam. Katanya, Masjid adalah tempat dimana manusia bisa berhubungan baik dengan Sang Pencipta sekaligus tempat yang dipakai untuk meningkatkan interksi positif masyarakat. Keduanya ada di Masjid Ageng Solo. 

 

(Masjid Ageng, Solo 2017)