Berita

Sukri Nasibmu Kini

"Boy," jawabnya singkat saat saya tanyakan siapa nama kuda itu. Kata Sukri, Boy adalah kuda keturunan Sumbawa. Kuda jantan miliknya itu selalu setia menemai Sukri mencari nafkah di Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur. Boy, si kuda berusia 10 tahun miliknya itu bertugas menggendong para tamu keliling telaga seluas 3 hektare. Sementara Sukri, menuntut hewan kesayangannya untuk menemani layaknya pemandu jalan.

 

Seperti yang ia lakoni siang itu di akhir Desember 2017, ketika membawa putri kecil saya di atas sang kuda. "Ongkosnya Rp60.000 untuk satu putaran telaga," kata ayah dua anak ini. "Bapak dan adik bisa naik di atas berdua, nanti saya tuntun," tambahnya lagi.

 

Sepanjang perjalanan Sukri bercerita. Boy, ditebusnya dengan banderol Rp25 juta dari salah satu pedagang kuda di Magetan yang menjadi langganannya. Sukri bukanlah orang baru dibisnis antar turis dengan kuda. Sebagai kelahiran asli Magetan 67 tahun silam, ia sudah hapal seluruh sisi Telaga Sarangan itu. 

 

"Tahun 1980, saya pertama kali bawa kuda. Waktu itu, sekali perjalanan ongkos Rp200-Rp400. Jalannya juga belum bagus seperti sekarang (sekeliling telaga berlapis conblock). Kuda buat mengantar tamu dari bawah untuk ke telaga. Belum ada yang berani keliling," jelasnya lagi. Tahun berjalan, tak terasa ia telah melakoni lebih dari 37 tahun. 

 

"Saya sebenarnya petani. Jadi kalau lagi tidak menggarap sawah, bawa kuda saya ke sini (Telaga) buat cari tambahan biaya hidup," ungkap  Ayah dua anak ini lagi. 

 

Ia mengaku, sebagai petani tak mudah mencukupi hidup keluarganya itu. Untuk mendapatkan padi yang dipanen saban 6 bulan sekali, ia harus mengeluarkan banyak modal: mulai membayar tenaga penggarap (yang kemudian disepakati dengan sistem bagi hasil) hingga pembelian pupuk untuk meningkatkan produktifitas panennya. 

 

"Paling banyak buat beli pupuk. Soalnya harga pupuk kan kadang naik kadang turun. Enggak tahu kenapa seperti itu. Mau enggak beli nanti panennya sedikit. Terus beli obat biar enggak ada hamanya juga perlu," serunya lagi.

 

Menjelang panen, gabah sudah masuk tangan tengkulak. Maklum, biasanya para tengkulak itulah yang memberikan modal awal untuk menanam padi. Ahlasil, Sukri tak bisa menentukan harga jual yang sesuai harga pasar untuk mendapat keuntungan lebih. 

 

Celakanya, ketika beras berlimpah di pasaran, harga pun semakin ditekan. Ia mengaku kerap kali terjadi, bertanam padi pada akhirnya hanya impas untuk menutup modal. Maka, selain padi ia pun berinisiatif untuk menanam sayur-mayur yang cocok juga ditanam di lereng-lereng gunung Lawu itu. "Kalau lagi waktu liburan sabtu-minggu ya bawa kuda ini untuk nambah pemasukan," katanya sambil menuntut kuda yang kami tunggangi.

 

Sukri terbilang sebagai salah satu petani yang beruntung. Ia masih punya modal cukup untuk mendapatkan pemasukan lain. Ia merupakan salahsatu dari 37,75 juta petani Indonesia yang masih bertahan. Berdasar data Biro Pusat Statistik tahun 2015, jumlah petani terus merosot.  Data dari BPS juga  menyebutkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dari 39,22 juta pada 2013 menjadi 38,97 juta pada 2014.

 

Menurunnya profesi petani lantaran tak lagi banyak anak muda untuk terjun di dunia pertanian. Maklum, tak seimbangnya pendapatan dibanding tenaga yang harus dikeluarkan membuat para pemuda memilih kerja cepat dan langsung menghasilkan. Menjadi buruh migran misalnya. Begitulah para pengamat menafsirkan data BPS di atas. Dampaknya, ketahanan pangan menjadi terancam sehingga produksi tak bisa menutupi kebutuhan konsumsi.

 

Maka boleh jadi ketika ada pembantu Pimpinan negeri ini pada akhirnya memutuskan untuk membeli beras dari luar negeri, gara-gara mengalkulasi kalau kebutuhan melebihi ketersediaan beras di dalam negeri. 

 

"Itu (impor) menunjukkan bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Presiden begitu mencintai rakyat. Tidak ingin di konsumen tinggi, petani tidak boleh rugi," ujar Amran di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (12/1). Seperti dikutip dari laman http://m.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/18/01/12/p2fxne377-mentan-impor-beras-wujud-kecintaan-presiden-ke-rakyat.

 

Ahhhh....petani tak boleh rugi dengan impor produk jadi? Nasib mu pak Sukri...

 (Ampera, 2018)