Berita

Pewarta Masa Kini dan Teladan Nabi

 

Dahulu, jauh sebelum era digital bersicepat menggerus era analog, saban pagi saya selalu merindukan hadirnya koran. Berita apa yang akan ditampilkan, menjadi kesenangan tersendiri untuk dinanti. Walaupun jumlah tulisan terhadang keterbatasan halaman, rasanya apa yang tersaji tidaklah mengurangi informasi yang diperlukan: ringkas, padat dan –bagi koran yang kredibel- akurat. 

Akurat? Sebuah kata yang menarik sehingga membuat para praktisi di industri komunikasi kini menjadikannya topik yang tak berhenti untuk dibicarakan. Mari cermati apa yang tersaji pada Koran Bisnis Indonesia edisi Jumat (9/2). Dua artikel yang datang dari dua kutub berbeda dalam satu dunia sama: dunia komunikasi. Satu datang dari sisi peracik berita, satunya lagi dari pelaku yang kerap menjadi sumber berita.

Artikel pertama dituliskan Hery Trianto dalam kolom ‘Beranda’ (halaman 1). Pemimpin Redaksi koran Bisnis Indonesia ini menelurkan tulisan berjudul:  “Obama, Medsos & Kebenaran Informasi.”  Secara ringkas, tulisan itu menyoroti, bagaimana kini informasi begitu liar membombardir khalayak sehingga justru berpotensi membuat khalayak salah mendapatkan informasi. Untuk memperkuat tulisan itu, Hery Trianto  sampai  mengutip pernyataan Denzel Washington, aktor Amerika Serikat yang menggambarkan bagaimana kini berita bisa ‘menyesatkan’ pembacanya. Kata sang Aktor, ‘Jika tidak membaca berita, Anda tidak akan mendapatkan informasi. Namun jika membaca, Anda mendapatkan informasi yang salah’ (http://koran.bisnis.com/read/20180209/244/736629/beranda-obama-medsos-kebenaran-informasi )

Soal informasi yang kemudian dapat menyesatkan, juga menjadi ide utama tulisan Agung Laksamana,  dalam kolom ‘Opini’ yang dimuat dalam BI edisi sama (halaman 2). Agung yang kini menjabat sebagai Ketua Umum BPP Perhumas Indonesia, juga ‘prihatin’ dengan berita yang ditampilkan media daring masa kini. Seolah-olah atas nama kecepatan untuk menyajikan berita, para jurnalis terjebak dengan meluncurkan berita terdahulu. Prinsipnya: asal cepat tayang. Andai salah atau tidak akurat, bisa dikoreksi berita selanjutnya mengingat media daring punya kapasitas tak terbatas, berbeda dengan koran. (http://koran.bisnis.com/read/20180209/251/736454/industri-media-klik-konten-trust.-selamat-hari-pers)

Kedua artikel itu memberikan gambaran, bagaimana para pelaku di dunia komunikasi mulai sangat terusik dengan berseliwerannya informasi-informasi yang kemudian justru menyesatkan. Kekisruhan itu datangnya dari pemroduksi berita ataupun dari khalayak. Alhasil, kurasi berita kini menjadi barang yang sulit dideteksi. 

Ron F. Smith, penulis buku ‘Groping for Ethics’ yang dikutip oleh Robert I. Berkman & Christopher A. Shumway dalam ‘Digital Dilemmas: Ehtical Issues for Online Media Professionals’ (Iowa States Press, 2003), menjabarkan alasan mengapa para jurnalis masa kini kerap kali tergelincir dalam hal akurasi berita. Ron menuliskan, sedikitnya ada 6 alasan, antara lain; 

1.       Jurnalis tidak mengerti betul, siapa atau apa yang sedang diliputnya; 

2.       Ceroboh dalam hal riset berita maupun membuat catatan yang keliru; 

3.       Ketidakpedulian sehingga tidak cukup melakukan riset pendahuluan, kesulitan  memahami hal-hal yang sulit (politik, ekonomi, hukum dll); 

4.       Terjebak mencari keburukan pada berita – biasanya berita mengenai keburukan lebih disukai pembaca

5.       Tekanan kompetisi yang tinggi; 

6.       Sindrom infabilitas- selalu mengganggap dirinya benar

Dalam penjabarannya, Ron menyoroti bagaimana jurnalis yang sudah melalui pendidikan jurnalistik  dalam lembaga pres resmi saja masih memiliki peluang untuk melakukan kesalahan dalam menyajikan berita. Belum lagi, dunia daring yang mengubah siklus berita konvensional  menjadi ‘continous news cycle’ – berita tersaji secara terus menerus- membuat penyaji berita tak punya cukup waktu untuk melakukan riset mengenai topik tersebut dan cenderung untuk menjadi yang terdepan dalam menayangkan berita tersebut. 

Lalu, siapa itu jurnalis? Siapa jurnalis kini pun semakin sumir. Jane Singer (2010: 103) dalam ‘New Media: Fourth Edition’ yang ditulis Terry Flew (Oxford, 2014: 109) menjabarkan, saat ini jurnalis tidaklah melulu berada dalam institusi besar, tetapi pemroduksi berita justru banyak muncul dari individu yang kemudian ‘diikuti’ oleh khalayak ramai. Artinya, yang dulunya adalah penikmat berita, kini juga bisa sekaligus sebagai pemroduksi berita. 

Celakanya, dunia daring memungkinkan setiap individu memilih informasi sesuai dengan ‘isi kepala’ dan ‘isi hati’, sehingga apa yang dibaca dan disebarkan akhirnya cenderung mengesampingkan pandangan-pandangan yang berbeda dengan apa yang dia mau. Hal ini juga didorong dengan fitur-fitur yang disediakan oleh laman mesin pencari semacam Google yang punya Google Alert. Adanya fasilitas ini, siapapun bisa memilih berita sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Tak peduli siapa yang memroduksi berita tersebut, asalkan memiliki kata kunci yang diinginkan –baik artikel maupun komentar-, mesin pencari Google akan menyodorkan langsung secara personal ke surat elektronik individu tersebut tautan berita atau informasi dengan kata kunci tersebut.

Celah inilah yang kemudian membuat khalayak dengan mudah tercekoki berita-berita yang akurasinya dipertanyakan. Mudahnya membuat akun anonim, tak adanya verifikasi dalam peneluran berita, juga membuka peluang berita sampah –HOAX- membombardir isi kepala pembaca.

Lantas Bagaimana?

Mencegahnya dengan cara menghentikan laju pemberitaan yang kini berseliweran itu, rasanya tidaklah memungkin. Setiap hari, ada sedikitnya 137 juta orang (data hingga September 2016) di Indonesia yang terkoneksi internet (http://www.internetworldstats.com/asia.htm, 2018). Mereka inilah yang bisa memroduksi berita dengan mudahnya. Lalu, bagaimana mencegahnya?

Memblokir bukanlah pilihan yang bijaksana. Maka, kuncinya adalah pada diri setiap penelur berita tersebut. Saat membaca tulisan Hery Trianto maupun Agung Laksamana, memercikkan kembali ingatan saya ketika berbincang dengan Parni Hadi, salah satu tokoh pers yang sempat memimpin Koran Republika.

Suatu siang di medio 2014, di rumahnya yang sejuk di kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ia menjelaskan bahwa seorang jurnalis harus memiliki hati nurani layaknya yang dimiliki para nabi. Walau topik saat itu lebih menjuju pada bagaimana Parni membangun Lembaga Dompet Dhuafa –Parni adalah salahsatu penggagas lembaga ini-  berkali-kali ia menyinggung, perlunya pers melakukan praktik Jurnalisme kenabian atau jurnalisme Profetik.

“Jurnalisme Profetik adalah jurnalisme yang meneladani tugas kenabian,” katanya kepada saya. Awalnya,  tak begitu paham, apa maksud dari jurnalisme profetik tersebut. Setelah berdiskusi lebih lanjut, Parni menjelaskan, bahwa dalam agama apapun tugas nabi adalah memberikan pencerahan, mengedepankan tanggungjawab secara etik. Singkatnya, siapapun penelur berita, tak hanya sekadar menulis atau melaporkan berita serta peristiwa secara lengkap, akurat, jujur dan bertanggungjawab, tetapi juga memberikan arah untuk melakukan perubahan berdasarkan cita-cita etik untuk mencapai kedamaian yang adil.

Hal inilah yang tampaknya harus dikedepankan siapapun yang bisa memproduksi berita saat ini. Akurasi berita akan bisa lebih tajam didapatkan bila penelur berita maupun penikmat berita sama-sama menyadari, bahwa apa yang disampaikan di ranah digital punya konsekuensi untuk menyesatkan ataupun mencerahkan. Mengingat ranah digital memilik jangkauan yang luas dan cepat, serta tak mudah terhapuskan karena begitu diduplikasi, sudah sulit dihilangkan. Jejak digitalnya akan terus beredar dan mudah ditemukan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya, menelurkan berita yang akurat adalah kewajiban bagi pewarta. Tetapi akurasi tanpa hati nurani, rasanya menjadi sesuatu yang tak sejalan dengan marwah pers yang tertuang dalam Bab II Pasal 3 ayat (1) UU Pers No.40 Tahun 1999: “Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial”

Semoga pewarta bisa memenuhi amanat dari undang-undang itu dengan meneladani tugas kenabian. Selamat hari Pers!

(Ampera, 2018)