Berita

MENANTI AKHIR YANG BAIK

Berturut-turut pesan saling menimpali dalam grup sosial media. Isinya, salinan yang sama: "Innalillahi wa innailiahi rojiun...semoga almarhum husnul khotimah," tulis salahsatu anggota grup yang kemudian ditimpali oleh anggota lain dengan menyalin persis tulisan itu. 

 

Pesan serupa kemudian mengalir  dengan segala macam doa dari anggota lain seperti menjawab doa sebelumnya. Isinya bila diseragamkan: memanjatkan doa agar lelaki tua yang kini bergelar Almarhum itu diampuni segala dosanya, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Doa berlipat-lipat, lebih dari ratusan orang mendoakannya. Doa baik yang seolah menjadi bekal Almarhum menghadap Sang Khalik.

 

Berita duka dan doa itu kemudian menyebar ke grup-grup percakapan lain. Bagi yang merasa mengenalnya, memberi tambahan keterangan tentang peristiwa yang merenggut nyawa lelaki lanjut usia itu. Pensiunan perwira pertama Angkatan Laut berpangkat Pembantu Letnan Satu (Purn) yang tak dikenal banyak orang sebelumnya, mendadak menjadi perbincangan masyarakat. Di situs-situs berita, para jurnalis dunia maya memberitakannya tanpa henti pada hari kematiannya. Dari beberapa orang yang saya kenal, saat membaca berita itu semua merasa ikut berbelasungkawa.

 

Dua hari setelah kejadian, saya kembali mengunjungi lokasi tersebut. Pagi tadi, suasana sudah tak seramai saat malam kejadian. Beerapa rumah dari lokasi, saya bertemu dengan tetangga korban. 

 

"Kalau dipikir-pikir, ada hikmah dari kejadian ini," kata tetangga lelaki korban perampokan.

 

Menurut sang tetangga, rencana Allah SWT mengangkat derajat seseorang bisa dengan cara apapun. Cara yang terkadang sulit diterima oleh akal manusia. Seperti kasus yang menimpa Pensiunan tentara ini. 

 

"Hikmahnya, karena ada kejadian ini, Almarhum didoakan banyak orang untuk diampuni dosa-dosanya. Pelayatnya tak cuma dari kalangan sanak saudara yang mengenalnya, tetapi juga dari berbagai kalangan hingga petinggi-petinggi Angkatan Laut yang saya rasa tidak mengenal beliau sebelumnya," tambah si Tetangga ini kepada saya.

 

Ia menceritakan,  sudah menjadi suatu hal yang lumrah, dalam hierarki tentara, kepangkatan seperti layaknya strata sosial yang berlaku di tengah masyarakat sipil. Semakin tinggi pangkatnya, maka semakin dihormati bagi si penyandang pangkat itu. Pun demikian sebaliknya. 

 

Kemudian sang tentagga menukil dari sebuah hadist yang ada dalam telepon genggamnya. Hadist itu berbunyi:

 

"عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

 

"Kalau membaca ini, saya merasa Almarhum tetangga saya itu memang sedang dinaikkan derajatnya karena ketakwaannya kepada Allah SWT.  Beliau wafat setelah menunaikan shalat maghrib dan saya dengar setelah beliau mengaji para perampok itu kemudian melakukan aksinya. Saya yakin, Beliau begitu bertakwanya kepada Allah SWT sehingga dipermudah dalam menghadap-Nya serta dimuliakan dengan mendapat doa dari banyak orang, baik yang dikenal maupun tidak, ketika beliau wafat,"ujarnya melanjutkan. 

 

Sang tetangga yang berumur tak terpaut jauh dari Almarhum kemudian sedikit bergumam. "Kita tidak pernah tahu kapan dan dengan cara apa kita akan dipanggil-Nya. Makanya, kita harus terus berupaya untuk menjaga ketakwaan kita kepada Allah SWT. Agar ketika maut menjemput, kita berakhir dengan baik sebagaimana Almarhum tetangga saya itu," ujarnya seraya mengajak saya untuk menuju masjid memenuhi panggilan adzan siang itu. 

(Ampera, 2018)