Berita

Tanpa Netra Ia Kejar Malam Mulia

Kami memanggilnya Anto. Pemilik nama lengkap Yulian Arshianto ini memang terlahir tanpa netra (mata). Inilah kali kedua saya menuliskannya di laman ini. Tak kurang saya masih merasa takjub terhadap dirinya. Apa pasal?

Saban shalaf fardhu, Anto nyaris  pernah alpa untuk berjamaah di Masjid Baitul Makmur. Minimal saat shubuh, maghrib dan isya. Sementara dhuhur dan ashar ia muncul saat waktu libur. Maklum, Anto adalah pegawai negeri di Arsip Nasional Indonesia. 

Atas aktivitas ini, teringatlah saya akan hadist Nabi Muhammad SAW: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, berbunyi,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’”

Entah ia pahami betul hadis ini, atau atas dasar lain. Tetapi kehadirannya di Masjid Baitul Makmur kerap.lebih cepat ketimbang waktu azan.

Ramadhan ini, ibadahnya semakin menjadi-jadi.   Persis kebanyakan muslim yang mengejar malam mulia: Lailatul Qadar, sepuluh malam terakhir, Anto tak pernah alpa menyambangi masjid selepas shalat tarawih. Seperti malam tadi, berbekal Al Quran braille keluaran Yayasan Raudlatul Makfufin, Anto menderas ayat-ayat Allah SWT. 

“Sejak sekolah dasar saya belajar baca Quran braille. Tapi baru intensif baca 5 tahun terakhir,” katanya menjelaskan.

Berbekal rabaan jemarinya, pukul 22.10 Anto mulai membaca AlQuran braille. Malam ini ia membaca ayat-ayat pada juz 29. 

“Braille ini bahasa arab, sesuai denga n isi Al-Quran. Setiap juz satu buku, jadi saya punya 30 juz di rumah,” tutur lelaki 44 tahun ini.

Anto mengaku, untuk membaca Quran braille ini tak mudah buatnya. Ia harus belajar beberapa tahin agar mengenali huruf-huruf braille berbahasa Arab.

Sejatinya Anto bercita-cita menjadi musisi. Lelaki kelahiran Jakarta ini mengaku pernah mengenyam pendidikan formal sekolah musik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan musik. 

“Tetapi enggak selesai. Saya kan suka main piano dan organ. Waktu istu saya mengambil jurusan komposisi, tapi ternyata enggak ada not balok dengan tulisan braille. Makanya saya pindah kuliah di Universitas Nasional ambil sastra Inggris,” papar suami Sri Benawati yang juga punya penglihatan terbatas.

Beruntung Anto secara otodidak terlatih untuk memainkan alat musik organ. Sehingga selain menjadi pegawai negeri sipil, ia kerap manggung di resto-resto masa kini di Condet.

 “Saya main sebulan sekali. Kalau enggak malam minggu ya minggu malam,” tuturnya malam tadi.

Obrolan malam tadi sebenarnya menyita jadwal rutin Anto I’tikaf. Sejak 10 malam terakhir bulan Ramadhan 1439 hijriyah ini, selepas tarawih biasanya ia pulang untuk kembali lagi pukul 22.00. Duduk di tiang favoritnya di shaf depan, kemudian Anto mengeluarkan Al-Quran braille nya dan memulai pembacaan ayat-ayat Al-quran dengan suara sedang. 

Sejam dua jam kemudian, ia beristrihata rebahan sejenak, untuk kemudian memulak lagi hibgga biasanya pukul 02.00 dinihari. Bagaimana dia tahu jam-jam istrihatnya? Mengandalkan handphone Nokia lawas miliknya yang setting dengan mode suara, Anto mendengarkan suara yang muncul dari handsetnya. 

“Sudah setengah dua, saya siap-siap mau pulang untuk makan sahur. Insya Allah nanti balik lagi shalat shubuh,” ujar Anto yang memilik darah Madura ini.

Anto yang tak punya netra, begitj bersemangat mengejar malam mulia: lailatul qadar. Sementara saya yanv diberi kelengkapan indera, semakin merasa kerdil dihadapan mereka yang punya semangat tinggi meraih janji Allah SWT. 

Adakah kesempatan pada Ramadhan mendatang? 

(Ampera, 28 Ramadhan 1439 hijriyah)