Berita

LIHAT AYAH!!

 

Bulan penuh berkah baru saja lewat. Ada yang bersukacita, adapula yang berurai airmata. Tak sedikit pula yang melewati dengan perasaan biasa saja. Rasa hati, hanya pemilik dan Allah SWT yang tahu. Kata lelaki yang didaulat sebagai Imam Besar Masjid ternama di Indonesia, “Niat itu dalam hati. Urusan hati tak ada yang tahu kecuali dia dan Alloh SWT,” ujarnya seraya mengutip hadist:

 

 “Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

 

Maka, lanjut sang Imam, jangan melihat manusia itu dari penampilan fisiknya semata. Katanya, semua kita hanya paham sebatas apa yang kita lihat, tapi kita tak paham akan apa yang ada dalam hati.

 

Pun demikian pasca Ramadhan kali ini. Selepas shalat shubuh, seorang jamaah sempat berkeluh kesah, lewat bulan penuh berkah, barisan jamaah kini semakin sepi. “Jangankan dua shaf, yang hadir saja tak lebih dari 10 jari. Padahal waktu Ramadhan, bisa sampai 5 shaf,” ujarnya.

 

“Mungkin masih pulang kampung, jadi mereka shalat di masjid-masjid kampung mereka,” timpal jamaah lainnya.

 

“Iya, lagian masak iya sih habis ibadah  sebulan penuh gak ada peningkatan keimanan. Minimal yang tadinya enggak terbiasa dhalat jamaah di masjid, sekarang jadi terbiasa, iya kan?” timpal jamaah ketiga.

 

“Benar juga ya. Ada teman saya perempuan yang tadinya pakai kerudung buat ngaji-ngaji, sekarang kabarnya sudah bulat berhijab. Karena dia bilang ribet setiap abis kajian Ramadhan kemaren harus bolak-balik lepas-pasang kerudung. Makanya sekalian aja pakai, eh katanya malah nyaman,” jawab jamaah pertama.

 

Sehubungan saya masih merasa ngantuk, saya hanya berusaha mendengarkan saja percakapan itu. Tak berusaha menimpali, lantaran kantuk susah ditepis dan juga minim ilmu agama. Saya hanya ingin cepat-cepat pamit untuk segera pulang. Teringat perkataan anak putri saya yang berusia 4 tahun tiba-tiba memilih baju lebaran dengan hijab panjang.

 

“Lihat ayah, jilbab ku panjang. Aku suka deh, ini bagusss,” sebutnya seraya berpose layaknya model baju kerudung.

 

(Ampera 1439H)