Berita

Misteri yang Sudah Pasti

Jumat, 12 Oktober 2018 silam, 8 jam bolak-balik ruang intensive care unit (ICU) bikin dag-dig-dug alias jantung berdebar kencang. Seperti menanti misteri yang sudah pasti.

Bayangkan, begitu pintu ruang itu terbuka, langsung 'terhidang' tempat tidur lengkap dengan pasien yang dijejali seperangkat alat medis. Mirip sajian di meja restoran padang: piring terhidang dengan aneka lauk di atasnya.

Nah, yang ini lebih mendebarkan. Mata disuguhi pasien dengan beragam kondisi: ada yang nafasnya tersengal-sengal, ada pula yang tergeletak pasrah dengan serangkaian jarum infus di tangannya.

Itu baru di ruang Kuning. Di bangsal Merah, ICU salah satu Rumah Sakit khusus Jantung di Jakarta, ada lagi pasien yang 'ditemani' alat rekam jantung, dengan sederet kabel menjuntai di tubuhnya. "Semalam serangan jantung, mas!" kta perawat yang berseragam hijau.

Bukan cuma satu-dua pasien, saya perkirakan hari itu sedikitnya lima hingga delapan pasien yang menggeletak lunglai. Tambah lagi, sepanjang 8 jam dalam ruang tunggu, ada saja penderita gangguan jantung yang masuk ataupun keluar.

Seorang pasien asal Medan, Sumatera Utara yang ditemani anak dan menantu, sudah lebih dulu berada di bangsal Hijau. Ia bercerita, lima belas tahun lalu, lelaki paruh baya ini menjalani operasi by pass pada jantungnya kini ia merasakan ada gejala yang tak beres di organ vitalnya itu.

Lain lagi seorang pasien dari Jakarta. Ia termasuk usia lanjut juga. Kali ini, jantungnya didiagnosa mengalami pembengkakan. Sebab utamanya, tekanan darah tinggi.

Periksa punya periksa, darah tinggi yang dideritanya sudah menahun. Bengkaknya organ sekepalan tangan itu bisa berujung pada gagalnya fungsi jantung.

Dalam buku saku yang diterbitkan Pusat Jantung Nasional, disebutkan, gagal jantung kongestif adalah keadaan dimana fungsi jantung sebagai pompa darah tidak adekuet menghantar darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kata lain, kerja jantung yang memompa sirkulasi darah 'ngempos'.

Penyebabnya bermacam, ada penyakit arteri koroner, hingga penyakit darah tinggi. Nah khusus darah tinggi, terjadi penebalan otot jantung (hypertropi), kerusakan struktural maupun fungsional pembuluh darah di seluruh tubuh termasuk pembuluh darah koroner.

Buat saya, menjadi rumit begitu bersinggungan dengan aneka istilah kedokteran. Bila dipikir-pikir, justru menjadi 'jantungan' karena saya berusaha keras memahaminya. Intinya, saban pasien yang masum ruang itu, punya masalah besar dengan jantungnya.

Inilah yang kemudian membuat saya berpikir ulang soal rencana-rencana besar di masa mendatang. Orang pintar bilang, bila kita ingin sukses, maka bermimpilah besar. Berencanalah agar sukses di dunia.

Namun, tesis itu tampaknya kurang lengkap bila tak diteruskan dengan menggali lebih jauh arti sukses itu sendiri. Sebagai penganut Islam, saya percaya sukses itu tak hanya urusan dunia, tapi juga akhirat.

Paling tidak itu yang disebutkan dalam QS:3 185. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."

Ukuran sukses dalam surah ini merujuk pada kemana kita akan pergi di hari akhir nanti. Apakah neraka atau surga. Bila surga, maka sukseslah kita, bila neraka, maka celakalah kita.

Lantas apa hubungannya dengan penyakit jantung? Soal ini yang membuat saya terhenyak adalah obrolan para penderita gangguan jantung. Kata salahsatu diantara mereka menyebut: "Alhamdulillah saya masih dikasih peringatan dengan sakit jantung ini ya," katanya kepada kolega yang menemani.

Perihal peringatan inilah yang kemudian mengingatkan kembali pada kejadian dua bulan silam: tanpa gejala-gejala serangan jantung, rekan kantor mendadak dipanggil Ilahi pada malam hari ketika ia sendiri.

"Dia orang baik, boasanya saban shubuh selalu shalat berjamaah di musholla sini. Pantesan tumben hari ini kok enggak kelihatan, ternyata wafat. Semoga terhitung husnul khotimah," kata tetangga almarhum rekan saya ketika sedang bersiap menghantar jenazah.a

Tidak seperti para pasien di bangsal itu yang sudah lanjut usia, tahun ini almarhum rekan saya itu menginjak usia 37 tahun.n

Inilah misteri yang sudah pasti datangnya. Bila tiba waktunya, ia hadir tak mempertimbangkan usia. Tinggal bagaimana kita, sudah siapkah menyambut kedatangannya?

(Ampera 1440H)