Berita

Mualaf Pondok, Siapa Dia?

Saya itu muslim keturunan. Sejak lahir di RS Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta, 45 tahun silam, sudah diperdengarkan azan di telinga kanan, dan iqomah di telinga kiri. Tidak seperti saudara-saudara mualaf yang ketika lahir, mungkin diberikan ritual yang berbeda.

 

Namun, atas gift  berkeyakinan islam ini, saya sangat bersyukur karena tak perlu bersusah-susah menghadapi situasi naik-turun layaknya saudara-saudara mualaf tersebut. Lalu, darimana orang tua saya mendapat keimanan islam itu? Hidayah tentu datang dari-Nya, tetapi kedua orang tua saya pun terlahir sebagai muslim dan muslimah. Khusus garis keturunan Ayah, punya cerita sendiri. Konon, berdasarkan cerita-cerita dari sanak famili garis Ayah, dahulu eyang dan eyang buyut saya itu, posturnya tinggi besar, dengan baluran rambut di sekujur tubuhnya.  Boleh jadi, mereka  ada juga sedikit-sedikit berbau Timur Tengah yang menjadi muasal Islam sejak abad ke-6 Masehi, ketika Baginda Rasullullah SAW diutus menjadi Nabi terakhir oleh Alloh SWT.

 

Perkara, ini bisa benar-bisa jadi juga tidak. Walaupun bila merujuk dari buku "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII,cet ke-II, Prenada Media, Jakarta (2005) racikan Azyumardi Azra, sebaran pedagang islam dari Timur Tengah ke Nusantara sudah terjadi sejak abad ke-7 masehi. Dalam kolomnya, M. Saekan Muchith, dosen IAIN Kudus dan Peneliti pada Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi, mengutip dari buku sejarah 2 SMA Kelas XI, hal 68-69, ada tokoh bernama Wan Hussein Azmi bilang kalau tahun 630 masehi, banyak saudagar Arab Selatan yang rajin mengunjungi Melayu. Adakah mereka salahsatu nenek moyang saya? Entahlah, tentu perlu uji DNA hingga membongkar lagi silsilahnya. Sesuatu yang tak perlu dilakukan saat ini.

 

Jelasnya, soal keturunan Timur Tengah, bisa dilihat dari bentuk fisik. Hampir seluruh ruang di tubuh ini, dipenuhi dengan rambut. Paling kentara, tentu saja di bagian terluar, semisal pipi dan dagu. Jika alpa seminggu tak dipangkas, rambut tumbuh subur menghiasi dagu. Atas lebatnya rambut, kebanyakan teman lebiih memilih memanggil dengan nama Bulu. Walaupun bulu sejatinya lebih pas disematkan pada bangsa aves, tapi atas anugerah ini, saya sangat bersyukur, paling tidak, kini orang tidak akan kecele lagi dengan nama saya yang kerap diidentikkan dengan nama perempuan. (Soal nama, akan dibahas kemudian).

 

Nah, lantas apa urusannya dengan judul di atas? Penjelasan ngalor-ngidul ini belum menjawab, siapa sesungguhnya 'Mualaf Pondok'?

 

Hal sama persis ditanyakan oleh seorang sahabat. Suatu ketika, ia bertanya, mengapa dalam tulisan-tulisan yang saya buat itu, seringkali menyematkan kata-kata 'mualaf pondok', apa maksudnya, siapa sesungguhnya dia?

 

Saya bukan pakar bahasa arab, apalagi agama islam dan penjelasan di atas rasanya tak perlu saya ulang. Menjadi islam sejak lahir, terkadang membuat terlena, sehingga tak ada semangat belajar tinggi layaknya para saudara yang memeluk islam ketika sudah dewasa. Misal, menghafal Surah Al-fatihah, 'ibu' dari segala surah di Al Quran, sudah saya lakoni sejak kecil. Tidak demikian dengan saudara-saudara mualaf yang mungkin saja, diberikan doa-doa dari keyakinan lain danbaru mengenal ayat-ayat Al Quran setelah dewasa karena mereka beralih keyakinan.

 

Segendang sepenarian perihal shalat. Kewajiban bagi muslim untuk melakukan aktivitas sehari 5 kali itu, sudah diperkenalkan sejak kecil. Malah yang diingat, ketika menjelang shubuh, seringkali diciprati air di muka oleh Ayah saya untuk mengerjakan shalat shubuh berjamaah. Bagi para saudara mualaf? Tentu saya yakin tidak merasakan ini, karena kewajibannya berbeda.

 

Singkat cerita, mualaf dalam arti umum (yang biasa diketahui banyak orang) dengan Mualaf Pondok yang saya sebutkan, memiliki makna yang sama: keduanya pasrah terhadap aturan baru yang diyakininya. Dalam kamus besar bahasa indonesia, sebenarnya kata mualaf diartikan hanya sebatas pengertian: orang yang baru masuk islam. Namun, cobalah tengok apa yang dijabarkan Mualaf Center, bahwa kata Mualaf itu berasal dari bahasa Arab yang berarti tunduk, menyerah dan pasrah.

 

Tunduk, menyerah dan pasrah ini yang kemudian saya terjemahkan dalam konteks pendidikan. Persis keyakinan saya kepada islam, selama ini sistem pendidikan berjenjang dengan kurikulum baku yang ditetapkan kementerian pendidikan, saya jalanai dan yakini sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Namun, belakangan setelah mencari tahu sistem  pendidikan Pondok Pesantren yang justru dikembangkan pertama kali oleh para cendekiawan muslim dan kyai-kyai Nusantara sejak baheula, saya mulai menggeser keyakinan akan sistem pendidikan yang baik bagi generasi penerus.

 

Di Pondok Pesantren, anak diajar dengan sistem pengajaran yang komprehensif. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Belajar bukan melulu berdasarkan teori-teori dalam ruang kelas. Setiap apa yang dilakukan adalah belajar. Setiap pekerjaan adalah pelajaran. Setiap aktivitas, meski berkaitan dengan hiburan adalah pelajaran.

"Jangan kalian pikir, Panggung Gembira ini adalah acara hiburan untuk hura-hura. MEski isinya pentas seni, tetapi ini adalah pelajaran. Santrinya belajar bagaimana mengorganisasikan seluruh kegiatan, ustadznya belajar bagaimana membuat santri seperti itu. Di sini (Pondok Pesantren Darussalam Gontor) semua aktivitas adalah belajar. Jangan salah orientasi," sebut KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, kala membuka perhelatan Panggung Gembira, pentas yang dilakukan oleh santri kelas 6 untuk menutup akhir belajar tahun 1440 Hijriyah (2019) lalu.

 

Itu baru segelintir konsep yang bisa saya ceritakan. Jika ingin lebih mendalam, perlu berjilid-jilid buku untuk mengupasnya. Bahkan, saya menduga, kini sekolah-sekolah umum pun mencoba mengadopsi sistem ini dengan membuat sistem sekolah boarding, kurikulum tematis, dan entah apalagi yang dicomot untuk kemudian ditawarkan kepada para orang tua siswa agar anaknya tidak hanya pandai secara keilmuan, tetapi juga adab dan akhlak serta etos kerja yang mumpuni. 

 

Berpindahnya keyakinan saya, dari model sekolah umum ke sekolah berbasis Pondok Pesantren persis seperti arti dari kata mualaf itu sendiri. Saya yakin dan pasrah dengan sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor, ketika memutuskan bersama istri untuk menyekolahkan anak kedua di Ponorogo, Jawa Timur. Pasrah dalam arti sesungguhnya, pasrah melihat anak mengikuti semua aktivitas Pondok. Pasrah dan yakin, bahwa apa yang diajarkan di sana memang berguna bagi masa depan anak. Pasrah pula mesti berjauhan dan  sebulan-dua mudif (berkunjung) ke Ponorogo yang jaraknya lebih dari 400 km dari Jakarta.

 

Jadi, atas berpindahnya keyakinan ini, tak berlebihan rasanya kalau saya menyebut diri ini adalah 'Mualaf Pondok', bukan begitu?

 

(Cipete, 1441H/2020)