Berita

Kisah Engkong Membayar Puasanya

Akhir 2019 lalu, hari terik di Jakarta. Hujan mengguyur, sehari sebelumnya. Dari layar telepon selular, tampak, suhu udara tercatat berkisar 31 derajat celcius di kawasan Krekot, Jakarta Pusat. 

 

Selepas bersua rekan, jm menunjukkan pukul 10.30 WIB. "Masih ada waktu, mampir ah ke masjid Lautze," pikir saya. 

 

Jarak Krekot ke Lautze dekat belaka. Kisaran 15 menit, berkendara roda dua, tiba di masjid yang didirikan Haji Karim Oey tahun 1992 itu.

 

"Zuhur masih lama nih, makan bakmi dululah," bathin saya.

 

Bakmi ayam, makanan populer di Indonesia yang sangat terpengaruh budaya Tionghoa, menjadi santapan siang itu. Biasanya, di daerah pecinan macam ini, saya tak berani menyentuhnya. Kali ini, saya beranikan diri menanyakan langsung pada penjualnya.

 

"Halal?" Tanya saya.

 

"Halal mas insya Alloh," sebut sang pedagang.

 

"Iya, insya Alloh halal," timpal seorang lelaki tua berpeci rajut.

 

Sang pedagang menjelaskan, bakmi yang dibuatnya ini dijamin halal karena menggunakan bahan-bahan yang sesuai dengan syariat islam. Saya meyakini, apa yang dikatakannya sesuai. Pedangangnya mengaku mualaf, pun demikian dengan lelaki tua yang menimpali tadi. 

 

"Saya juga biasa makan," kata lelaki tua yang oleh pedagang disapa Engkong.

 

"Kalau gitu pesan yang komplet ya. Engkong juga mau?" Pinta saya ke pedagang sekaligus menawarkan pada lelaki tua yang duduk tak jauh dari gerobak bakmi. 

 

"Terima kasih, saya puasa," ujar Engkong itu kemudian.

 

Singkat cerita, seporsi bakmi ayam komplet saya pesan. Demi 'melayani' perut keroncongan, bakmi itu tandas dalam seketika. Sepanjang menikmati mie ayam, saya berpikir, "engkong puasa? Hari ini kan selasa, puasa apa? Tak mungkin puasa sunah senin-kamis. Apa dia puasa ayamul bidh alias puasa pada tengah bulan hijriyah?"

 

"Engkong, maaf, lagi puasa apa? Kan hari ini selasa, puasa tengah bulan?"

 

"Enggak, saya puasa bayar, yang sebelumnya enggak pernah puasa," jawabnya santai.

 

"Sebelumnya?"

 

"Iya, saya ini mualaf," katanya lagi. "Tahun 1989 saat saya masuk islam, umur saya 30 tahun. Nah selama 30 tahun itu kan saya enggak pernah puasa," kata keturunan Tionghoa ini. 

 

Ia menceritakan, ketika masuk islam pertama kali, mulus belaka. Dulu, ia yang berdagang keliling Indonesia, seringkali mampir ke beberapa daerah. Suatu ketika, bersama koleganya, ia diajak ke salahsatu Pondok Pesantren di Jombang. 

 

"Lupa nama pondoknya, pokoknya prosesnya cepat, saya datang ngobrol-ngobrol dan terus entah gimana, udah tekad aja, saya minta diislamkan. Jadi deh saya baca syahadat. Dari situ saya mulai belajar islam. Salahsatunya puasa ini," ujarnya.

 

Ia bercerita, sejak memeluk islam, ia banyak mempelajari Al-Quran. Kini ia mengakui memiliki sejumlah murid yang juga mualaf di Masjid Lautze. Ia membuka kelas untuk siapa saja yang ingin belajar membaca dan menulis Al-Quran. Ia merasakan betul, setiap mualaf Tionghoa seringkali kesulitan mendapatkan pengajaran membaca Al-Quran.  

 

Entah berapa lama obrolan pascamenyantap mie ini berjalan. Berbagai cerita sukaduka melepas agama nenek moyangnya yang tak cuma melepas kebiasaan, tetapi juga harus beradaptasi dengan lingkungan terdekat: keluarga. 

 

Sejenak kemudian, ia berdiri. "Eh...sebentar, saya mesti siapkan buat shalat dzuhur," katanya sembari berdiri dan menuju ke dalam Masjid Lautze. BErgegas saya mengikutinya, tak lama kemudian ia melantunkan adzan. 

 

Hari itu saya tak cuma mendapat nikmatnya mie ayam. Hari itu, Allah SWT memberi saya pelajaran penting melalui engkong itu: bahwa hidayah itu mahal, maka jagalah hingga hayat dikandung badan. 

 

(Ampera 1441H)