Berita

Siapa Bilang Majalah Mati?

Ini kali ketiga saya menerima Majalah Gontor. Seperti biasa, awalnya tak terlalu perhatian, hanya senang saja, akhirnya ada juga majalah versi cetak yang mampir ke rumah saya. "Emang masih baca majalah?" tanya teman saya suatu ketika. "Beritanya basi, udah berapa tahun ini saya enggak pernah lagi buka majalah," tambah teman saya suatu ketika di pertengahan Februari 2020 lalu. 

 

Teman saya ini kelahiran tahun 1975. Usia kini sudah 45 tahun. Kala masih menjadi mahasiswa, di tahun 1994 dulu, pelahap aneka bacaan ini memang akrab dengan berbagai majalah. Saya terkadang menikmati juga, saban dia kelar membaca Majalah Tempo atau Popular, saya kebagian lanjutannya. Keduanya memang majalah yang cukup punya nama di belantara media massa Indonesia. Yang satu berada di kolam politik, satunya lagi di lahan penuh syahwat. terkadang, narasumbernya sama, cuma jenis pakaiannya saja yang berbeda.

 

Tapi kini? Tersisa hanya Majalah Tempo. Popular yang terkenal dengan pose-pose perempuan 'miskin' (karena kerap kali baju yang dipakai minim tak menutupi seluruh tubuh) langganan kaum Adam, sudah tak bisa lagi ditemui di berbagai toko buku. Kabarnya majalah itu sudah tak lagi terbit. Kalah dengan pixel-pixel pembentuk gambar pose perempuan 'miskin' di layar telepon genggam.

 

Majalah memang dirundung nestapa. Beberapa perusahaan raksasa media massa di Indonesia saja, tak tahan menghadapi kenyataan ini. Bahkan, petinggi salah satu  perusahaan itu, dalam rapat kerja tertutup -macam detektif masa kini saya mendapat info dari orang 'dalam'- menyatakan: "Masa depan media cetak paling lama 10 tahun lagi," katanya di depan forum petinggi perusahaan raksasa media itu di akhir Januari lalu. 

 

Sang informan bercerita, suasananya cukup awkward alias aneh. Perusahaan media besar, yang dibesarkan dari media cetak, sudah menyatakan bahwa 'tulang punggungnya sakit'. Dunia media berbasiskan kertas, runtuh dihajar era internet. Walaupun Nielsen, lembaga survey yang banyak dijadikan acuan (meski ada juga sebagian yang bilang, karena tak ada lembaga lain) secara 'bijak' menyatakan, sesungguhnya setiap media mempunyai segmen dan keunggulan masing-masing. Termasuk media cetak, yang dianggap memiliki kelebihan, bisa bertahan lama jika pengiklan ingin menampilkan produknya. Sesuatu yang sebenarnya juga sudah terbantahkan oleh tak lekangnya 'jejak digital' di dunia maya. 

 

Tapi, baru-baru ini optimisme mulai timbul. Perkaranya apa yang dituliskan Rizal Mallarangeng, politisi di negara +62. Dalam laman Qureta, sebuah situs sharing opini, yang menyajikan tulisan resensi Rizal terhadap buku Alexander Zevin, "Liberalism at Large: The World according to the Economist" (2019). Artikelnya sendiri lebih mengisahkan bagaimana sebuah Majalah (yang sering disebut sebagai Koran) dapat mempengaruhi dunia dengan ideologinya. Bagaimana liberalisme pada akhirnnya tertanam sebagai 'pemenang' di dunia saat ini. Ketika komunis dianggap tidak efektif lagi, ketika negara-negara sosialis kemudian menjadi sangat kaya raya saat ini. 

 

Namun bagi saya, bukan itu yang menarik diungkapkan. Saya yang pernah berkecimpung di dunia media cetak selama lebih dari 15 tahun (meski kemudian menyebrang ke dunia komunikasi lain), merasakan benar, bagaimana The Economist menyajikan ulasan-ulasan yang tajam dan mendalam. Walaupun bagi non native seperti saya ini, bahasa yang digunakan terkadang perlu diulang berkali-kali untuk memahami. 

 

Konten tajam, dengan dukungan narasumber terpercaya dan punya kredibilitas -Karl Marx pun pernah juga menulis di majalah ini-  menjadikan majalah yang didirikan tahun 1843 oleh James Wilson, seorang pebisnis dari Skotlandia -Wikipedia menyebutnya dari Inggris-  malah membalikkan asumsi kebanyakan orang, bahwa hingga kini majalah akan mati. Nyatanya, oplah The Economist justru melonjak 1,5 juta kali. Sebuah angka yang fantastis untuk majalah cetak. 

 

The Economist tampaknya juga tidak mau terlalu naif. Mereka pun kini juga memberikan layanan versi digital. Pengakses masa kini, tak mengenal majalah. Dari hasil survey yang saya lakukan terhadap 43 orang berusia kurang dari 35 tahun di Jakarta dan sekitarnya pada Januari 2020 lalu, 90%-nya tidak membaca koran atau majalah. Sebuah titik 'terang' untuk menuju kegelapan media massa cetak. Hal ini bukan tak disadari The Economist, sehingga mereka pun menyajikan juga berita-berita di laman mereka.  

 

Pun demikian dengan majalah Gontor yang saya terima beberapa waktu lalu. Sebagai Wali Santri, saya mendapatkan Majalah ini saban bulan. Tidak tahu persis berapa banyak oplah majalah ini. Mungkin saking tidak semangatnya lembaga pencatatan majalah atau media cetak di Indonesia, sulit menelusuri di jagad digital berapa besar sesungguhnya oplah majalah ini.

 

Namun, dalam hitungan kasar saja, kalau saban santri Gontor yang jumlahnya melebihi 20 ribu, plus alumninya yang berjumlah lebih dari 200 ribu seluruh nusantara (mungkin juga lebih dari itu, mengingat usia Gontor sendiri sudah mencapai 92 tahun), potensi oplah majalah Gontor bisa-bisa melebihi majalah-majalah lain yang namanya tenar.

 

Majalah ini memang tak setenar Tempo ataupun majalah lain. Tetapi, dalam lingkungan pondok modern Darussalam Gontor, nama majalah ini terbilang moncer. Dalam grup WA yang berisi Wali Santri kelas 1, kehadiran majalah ini dinanti-nanti. Mereka menantikan untuk membacanya. Bahkan, adapula yang sudah menyiapkan rak khusus untuk menjilid versi cetaknya, untuk di koleksi.

 

Saban terbitan majalah ini, memang tak alpa, para Kyai pendiri, atau yang dikenal dengan Trimurti Gontor (KH. Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, KH Imam Zarkasyi) memiliki kolom khusus. Meski sudah wafat, tulisan-tulisan ketiganya masih bisa dinikmati para pembacanya. 

 

Jika The Economist menampung para pemikir-pemikir liberal untuk menulis di sana, Majalah Gontor pun demikian. Mereka memberikan ruang khusus untuk terus menyuarakan ideologi Gontory (istilah yang jamak bagi kaum pesantren Gontor). 

 

Dari keduanya saya melihat, sesungguhnya apa yang menjadi 'bahan pengawet' untuk tetap menggaet minat pembaca adalah 'isi dan ideologi' dari media itu sendiri. Sementara media, hanyalah sebuah perantara. Apakah itu cetak, digital atau saluran teresterial tak akan mendapat perhatian pembaca bila isinya tak dibutuhkan. Bukankah kita mencari isi bukan kemasan?

 

Bahwa kemasan adalah hal awal untuk menarik pembaca, saya juga tidak menampik. Tetapi, sekali lagi, isi yang menawan dan berhasil menarik pembaca dengan mengubah ideologinya sehingga sama dengan ideologi dari pengelola medianya, jauh lebih penting. Bukan begitu?

(Ampera, 1441H)