Berita

Gogo, Benarkah Itu?

Warnanya campuran kuning dengan putih. Di kaki kiri depan, ada bekas luka. “Gogo berantem Yah, sama kucing item,” kata anak perempuan saya.

Gogo, si Kucing jantan, beberapa bulan belakangan betah singgah di rumah. Entah siapa pemiliknya, tapi felidae yang tak jelas marganya ini, awalnya saban sore bertengger di atap kap Yaris 2012. Tak ada aktivitas lain, selain ngegelosor tidur sembari melingkarkan badannya.

 “Ayah, itu kucing aku, si Gogo. Dia bapaknya Piki dan Piko. Kan dia kawin sama Lily,” jelas anak perempuan suatu ketika.

Piki dan Piko juga sebangsa kucing kampung. Meski tak jelas betul, sesungguhnya dengan siapa Lily, si kucing betina berkelir abu, melakukan ‘kegiatan yang menyenangkan’ hingga melahirkan kedua kucing mungil itu.

Jelasnya, Piki dan Piko lantaran berkelir kuning, maka anak perempuanku memberikan ‘klaim sepihak’ bahwa keduanya adalah buah cinta Gogo dan Lily.

Beruntunglah Gogo dan Lily, meski ia hidup di Indonesia raya, tak kena pasal UU Perkawinan No.16 tahun 2019. Pada Bab II pasal 6 dan 7 UU RI No 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, terutama pasal 2 menyebutkan: Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

Baik Gogo dan Lily, terbebas dari jeratan beleid itu. Pertama, dalam pasal itu jelas termaktub, bahwa yang dikenakan hanyalah sebangsa homo sapiens. Sedangkan bangsa felideae tak masuk di dalamnya.

Andai UU itu juga mengalami ‘salah ketik’ sebagaimana Omnibus Law, UU Cipta kerja yang ramai dibincangkan, bisa jadi Gogo dan Lily tejerat UU itu. Misalnya saja, ketika salah ketik tanpa menyertakan kata ‘seorang’, bisa dipastikan Gogo dan Lily kini meringkuk dalam tahanan. Untunglah, juru ketik UU itu tak meleset barang setitik pun.

Kedua, perihal usia, bisa dipastikan Gogo maapun Lily sesungguhnya sudab melampaui ambang batas. Sebab, usia keduanya mungkin sudah 30 tahun. Hitungannya 1 tahun usia kucing sama dengan 15 tahun usia manusia.Terlepas ari urusan birokrasi, sesungguhnya Gogo memang gagah perkasa. Ibarat manusia, dia punya potongan macam binaragawan berbodi kekar. Boleh jadi, bekal bodi yang ciamik itulah yang bisa menggaet para kucing betina.

Suatu ketika, saya pernah memergoki Gogo sedang asyik memadu kasih dengan kucing betina lain. Entah siapa nama kucing betina itu, tapi saat dihampiri Gogo, si Betina ‘malu-malu kucing’. Ia duduk bersimpuh, sembari mengangkat buntutnya selayaknya antena televisi: suatu perbuatan tidak senonoh bila terjadi di kalangan manusia.

Mendapati lawan jenisnya memberi peluang, Gogo perlahan tapi pasti menghampiri. Cerita kemudian, tak perlu dijabarkan, semua mahfum adanya ‘aktivitas yang menyenangkan’ terjadi secara alami.

Dampaknya terlihat beberapa bulan kemudian. Si Betina ‘pasrah’ itu, berat membawa tubuh dengan embrio membesar dalam rahimnya.

Entah apakah karena kelihaian Gogo yang doyan berplesir dengan betina lain itu penyebab Lily selalu ‘mencakar’ Gogo manakala saya memberinya makan. Dalam satu cawan, biasanya saya tuangkan makanan kucing rasa tuna -soal rasa ini, saya tak pernah merasakan, tapi percaya saja dengan penjualnya. Mungkin si penjual pernah pula mencicipi makanan itu sehingga fasih menjelaskan khasiatnya-, bukan berbagi, tetapi Lily selalu mencakar Gogo.

Lucunya, saban kali Lily mencakar, Gogo tak pernah membalasnya. Dia hanya diam sembari melengos pergi. “Gogo sih enggak mau ngurusin Piki dan Piko, Lily marah tuh Yah,” kata anak perempuanku lagi.

Saya hanya tersenyum, tanpa menjawab sepatah kata. Saya khawatir, jawaban saya akan membuat imajinasi anak perempuanku ini, terhenti.

Meski dalam hati berujar: “Gogo benarkah itu?”

(Ampera, Rajab 1441H)