Berita

Tak Selamanya Pesan Ojol Semudah Pencet Odol

 

 

Anak zaman sekarang, mana kenal merek pasta gigi Odol? Saya yang besar di tahun 1990-an saja baru tahu kalau itu pasta gigi, setelah masuk di bangku kuliah. 

 

"Kamu tahu Odol?" tanya saya ke anak Muda yang saya taksir usia 23 tahunan di sebuah warung pinggir jalan, tempat kami bersua.

 

"Oh itu kan biasanya bahan buat sikat gigi, mereknya macam-macam ada Pepsodent dan ada juga Formula," sebutnya. 

 

"Odol itu merek pasta gigi juga, jadi sama dengan Pepsodent dan Formula," kata saya sok tahu. 

 

"Ohh gitu Om?" jawabnya dengan santun sembari mencomot tahu isi.

 

"Makanya baca. Odol itu pertama kali berdiri tahun 1892 di Jerman. Pendirinya bernama Karl August Ligner," kata saya sedikit jumawa.

 

Merasa lebih tahu, saya meneruskan. Sembari sesekali menoleh kepadanya, saya bercerita kalau Ligner kemudian berkolaborasi dengan Prof. Richard Seifert (1861-1919) yang pada tahun 1859 mendaftarkan merek Odol sebagai merek dagang khusus untuk urusan kebersihan mulut dan gigi. Odol sendiri merupakan asal kata dari Odulus (bahasa latin) yang artinya gigi. Tahun 1930, kemudian Odol mendunia. 

 

"Nah salah satu negara yang dimasuki Odol, adalah Indonesia ketika masih bernama Hindia Belanda. Mereka para bule penjajah itulah yang membawa Odol ke Tanah Air," tambah saya. 

 

Yang diceritakan hanya manggut-manggut sembari memainkan telepon genggamnya. Tak lama kemudian, ia menyela: "Maaf pak, saya mau sarapan dulu dulu," katanya dengan santun (sesuatu yang jarang buat anak zaman sekarang).

 

"Oh iya, silakan" jawab saya. "Saya juga mau pesan Ojol (ojek online)."

 

Ojol memang menjadi idaman sebagian besar warga Ibu Kota Jakarta. Banderolnya pasti, penggunanya pun tak perlu lagi memikirkan parkir dan segala macam perawatan kendaraan. Untuk memesannya, cukup gunakan jari dan tentu saja paket data internet di telepon genggam. Mudah bukan?

 

Maka, Ojol adalah kendaraan idaman masa kini. Di pasaran, ada Grab Bike, ada pula Gojek. Nah, merek terakhir ini adalah hasil racikan Nadiem Makarim yang kini didapuk menjadi Menteri Pendidikan. Saking suksesnya, oleh Bloomberg dinobatkan sebagai salah satu dari 50 top innovator . Selain itu, menurut Nikkei Media, aplikasinya sudah diunduh 150 juta orang . Sementara mitra -sebutan yang menuai pro kontra lantaran peng-Ojol bagi beberapa orang dianggap sebagai 'mesin perah' - sudah mencapai 2 juta.

 

Hasil survey yang dilakukan oleh Nikkei Media dan dikutip berbagai media massa Indonesia di Juli 2019 lalu itu, paling tidak memberikan dua gambaran besar bagi saya: Pertama, Ojol Indonesia racikan perusahaan rintisan  diperhitungkan di tingkat dunia. Kedua, saking suksenya, berdampak pada konsumen yang mesti bersabar untuk mendapat layanan prima, terutama saat jam sibuk di pagi hari, plus cuaca mendung dengan awan menggantung. 

 

Hal kedua sesungguhnya lebih menarik buat saya untuk dibahas. Seperti judul di atas, dalam kondisi rush hour seperti saat itu, jangan harap bisa memesan Ojol semudah memencet Odol. Anda harus bertarung dengan jutaan orang yang memesan dalam waktu bersamaan. Paling tidak itu yang saya rasakan pada beberapa hari lalu. 

 

Padahal, kalau merujuk pada iklan-iklan yang beredar, untuk mendapatkan Ojol, mudah saja. Setelah pencet beberapa fitur pada layar telepon genggam, Ojol datang seketika dengan pengendara bermuka manis berpakaian rapi dan lengkap. Kondisi ini, menurut saya mirip dengan kemudahan saat memencet Odol keluar dari tube-nya. 

 

Sekadar penggambaran, saya ini kalau dalam empat kuadran psikologi DISC yang dicetuskan oleh Willian Moulton Marston, psikolog Amerika Serikat, rasanya masuk dalam kuadran Dominance-Influential. Tipe orang semacam ini, kata suami dari Elizabeth Holloway Marston pencipta superhero DC, Wonder Woman, mudah bergaul dengan orang lain, bisa membaur dengan cepat dan hangat dalam relasi. Namun, cenderung cepat dalam mengambil keputusan dan kerap kali tidak mempertimbangkan berbagai macam data serta analisa. 

 

“Orang semacam ini, Kalau berpikir suka loncat-loncat. Kayaknya apa aja mau diomongin. Sebentar topiknya bisa berubah-ubah. Paling gampang coba lihat cara memencet odolnya, nah kalau orang tipe ini, hari ini mencetnya atas, besoknya bawah. Enggak teratur,” kata Ivhan Sasmita, trainer  dalam sebuah pelatihan. 

 

Nyatanya, jurus pencet odol yang mudah meriah ala manusia tipe DI, tak berlaku saat memesan ojol. Setelah pencat-pencet pesanan, tak lama kemudian datanglah Ojol seperti yang diharapkan. Awalnya saya pikir, memang nyata semudah memencet odol. Namun, coba tengok dialog pada screen capture yang ada di bawah ini. 

 

Kelanjutannya, Bapak Ojol yang tektokan chat, akhirnya membatalkan. Terpaksa, mulai lagi pesanan baru.

 

"Kenapa om, di cancel ya?" Tanya anak muda itu seraya membuka aplikasi Ojol dari merek sama, kemudian ia memesannya.

 

Selang beberapa menit, tampak kemudian pengendara Ojol menghampiri.

 

"Mas xxx?," tanya pengendara Ojol kepada saya. "Bukan, dia yang pesan," kata saya sembari menunjuk anak muda itu.

 

"Maaf om, saya duluan," katanya sembari nyemplak Ojol.

 

Dalam hati saya membatin. "Anak muda itu memang tak tahu Odol, tapi buat dia memesan Ojol, semudah memencet Odol."

 

(Ampera, Rajab 1441H)