Berita

Lily Punya Anak Lagi

 

Hiruk pikuk dunia manusia lagi merajalela. Gara-garanya virus Corona, hewan berukuran 120 nanometer,  menyerbu sistem imunitas tubuh yang membuat manusia sulit bernapas. Hewan superkecil itu, seperti tak peduli, inang yang dijadikan tempatnya bersandar hidup, justru perlahan-lahan ‘dimatikan’.

 

Virus ini menginfeksi tak hanya paru-paru inangnya, tetapi juga pikiran para manusia. Kini di sosial media, semua manusia layaknya virolog, profesi apa pula itu? Dia yang bergelar virolog biasanya akrab dengan hewan kecil ini. Saya menakar, semasa sekolah dia yang doyannya memicing-micingkan mata untuk mencari di mana gerangan virus itu bersarang. Biasanya, berpakaian rapat sekujur bodi sehingga virus enggan masuk. Menyendiri dalam ruang laboratorium, persis pertapa di dalam goa.

 

Kini tanpa memicingkan mata, tanpa perlu mengenakan pakaian lengkap, tanpa perlu sekolah berlama-lama di fakultas biologi, tiba-tiba banyak manusia menjadi pandai menafsirkan langkah virus Corona menginfeksi ke seantero dunia.   Entah bagaimana kerja virus itu, sebagai anak sosial (saya lulusan A3 semasa SMA), jangankan mengenal aneka virus, menghafal rumus kimia saja kurang paham. Satu-satunya rumus kimia yang saya hapal adalah NaCl alias Natrium Chlorida  atau kalau bahasa Bang Mamat tukang soto Betawi , dia sebut dengan garam dapur.

 

Maka, saya tak habis pikir, alangkah hebat kerja virus yang merebak awal di Wuhan China itu. Bisa mencetak sejumlah pakar virologi dengan bermodalkan gawai mereka. Sungguh dunia masa kini yang semakin istimewa.

 

Walau sama-sama hewan ciptaan Alloh SWT, Lily, kucing betina berkelir tiga, sepertinya tak mengenal virus Corona itu. Dua malam lalu, tepatnya di malam Ahad (14 Maret 2020), Lily tengah berjuang sendiri. Ia tak peduli apa yang terjadi di dunia manusia. Di perutnya, bersemayam tiga nyawa yang akhirnya dilahirkan di dalam lemari.

 

Satu persatu ketiga bayi itu muncul di dunia, dua berkelir hitam dan satu berwarna kuning.  Dua warna dominan abu-abu dengan corak putih, dan satu berkelir kuning. Untuk yang terakhir, saya mensinyalir hasil ‘kolaborasi’ antara Gogo dan Lily. Sedangkan dua lainnya, entah kucing mana yang menanamkan benih pada rahim Lily.

 

Lily kini tak gendut lagi, ketiga bayinya sudah keluar. Bayi mungil berusia dua hari itu, hanya bergantung dari air susu Lily. Lily tak peduli soal dunia manusia. Lily hanya memakai instingnya untuk bagaimana membesarkan ketiga anak itu nanti. Tak seperti manusia, Lily harus berjuang sendiri. Dalam dunia kucing, tak menganl pola asuh dengan dua orang tua. Lily adalah single parent yang sudah terbukti bisa membesarkan Piko dan Piki. Dua anak terdahulu yang kini sesekali masih suka muncul di teras rumahku.

 

Andai Lily terkontaminasi virus corona, mungkin ia tak hanya sekadar membesarkan anak-anaknya itu. Bisa jadi, Lily juga akan berubah layaknya manusia masa kini yang mendadak menjadi para ahli virus tingkat dunia, meski dalam statusnya hanya sekadar mengutip dari berbagai sumber. Adakah sumber yang dikutipnya itu sungguh terpercaya? Soal itu, siapa peduli?

 

(Ampera, Rajab 1441H)