Berita

Begini Rasanya Jadi Pengajar

Puluhan tahun hidup berumahtangga dengan seorang pengajar, baru kali ini saya bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi pengajar. Kalau dalam hirarki Abraham Maslow, aktualisasi diri ada di level 5 mungkin teori ini bisa jadi tidak berlaku bagi pengajar. Bukan perkara bisa sohor dihadapan khalayak, tapi ada hal lain yagn jauh lebih dari sekadar gegayaan untuk mendapat pujian.

 

Berhubung saya bukanlah psikolog ataupun ahli membaca perasaan orang, soal masuk teori mana pencapaian seorang pengajar saya serahkan pada ahlinya. Bukan apa-apa, sebab, kalau sesuatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya, alamat bakal berantakan. Bayangkan, bila ada seorang berkemampuan hanya mengukir mebel, tetiba diserahkan mengurus orang satu kecamatan, apa enggak runyam itu persoalan? Ah...ya perihal ini sekali lagi saya serahkan pada ahlinya....

 

Kembali soal pengajar. Suatu ketika saya mendapati, pasangan hidup saya itu ceria sepulangnya dari mengajar.  Saya menduga, remunerasi yang dijanjikan pemerintah cair sudah. Sebagai pasangan hidup, gembira pula hati ini melihat pemandangan yang menyejukkan.

 

Selepas isya ia bercerita: “Hari ini aku senang, mahasiswa ku lancar menghadapi sidang. Semua yang aku sarankan dia ikuti, dan hasilnya menurutku bagus,” ujarnya sembari memperlihatkan wajahnya yang ceria.

 

“Ohh...kirain soal remunerasi yang dijanjikan cair,” kata saya sembari menyeruput kopi tumbuk hasil kebun di Tabanan.

 

“Hehehe...enggak usah dibahas kalau yang itu. Rejeki darimana aja, Mas,” katanya kemudian. Kalimat yang penuh makna, persis seprti apa yang dituliskan Yasraf Amir Pilian dalam bukunya’ Dunia yang Dilipat’ (Jalasutra: 2014). Kata-kata yang ‘dilipat’ sehingga semakin singkat namun semakin ‘tebal’ maknanya.  

 

Berceritalah ia panjang lebar, bagaimana mahasiswa bimbingannya menjawab segala pertanyaan penguji dengan baik dan benar. Ibarat menyapu lantai, tak ada debu tersisa sedikitpun. Semua tandas, licin, selicin lantai masjid Baitul Makmur yang dibersihkan saban pagi, siang dan malam.

 

“Ada sih gagapnya, tapi secara umum, skripsinya bagus. Yang penting sekarang dia tahu, metodeloginya seperti apa, konsepnya gimana, teorinya apa yang dipakai. Soal nilai, ya terserah para penguji nanti,” imbuhnya lagi.

 

Saya takzim mendengarnya. Ingatan meluncur segera ke sejumlah pengajar-pengajar  di sekolah formal maupun informal. Utamanya di sekolah dasar, menengah atas hingga bangku kuliah. Nyaris tak ada yang hidup bermewah-mewah bergelimang harta benda. Dalam takaran perabotan dunia, mungkin bisa dibilang ala kadarnya, tetapi boleh jadi dalam takaran ‘kekayaan’ hati, jauh lebih menggembirakan. Maka tak berlebihan rasanya bila saya bilang, Maslow mungkin harus merivisi hingga level ke-6 dalam tingkatan teorinya. Pasalnya aktualisasi diri bukan untuk menunjukkan pada orang lain, tetapi pada pencapaian pribadi.

 

Tak heran, ibu saya sejak tahun 1978 hingga kini bergiat memeberi pengajaran dengan medirikan, TK Bina Harapan. Sekolah yang dikelolanya  itu sedikitnya sudah meluluskan lebih dari 1.000 siswa. Atas keberhasilan anak didiknya, ia tak mendapat apa-apa kecuali rasa bahagia karena menelurkan generasi yang taat aturan. Meski ada satu dua yang tak sesuai harapn, itu wajar saja, bukankah tidak semua buah dalam pohon layak dimakan?

 

Toh nyatanya rasa bahagia dan bergembira ria berhasil memberikan pengajaran itu bisa mengalahkan segalanya. Persis seperti ketika saya  mendapat kiriman dua podcast –semacam rekaman testimoni-  dari  pengajar di Madrasah Aliyah Citra Cendekia. Dua alumni sekolah itu menceritakan, bagaimana mereka kini tak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang memiliki jenjang lebih tinggi. Tempaan dan bimbingan para pengajar di Madrasah Aliyah Citra Cendekia, membentuk pribadi mereka lebbih tangguh.

 

“Hampir setiap saat ada saja tugas yang diberikan. Saat itu kayaknya semua harus selesai,” sebut Tsurayya, alumni 2018 yang kini kuliah di Uninversitas Islam Indonesia jurusan psikologi. “Cuma di Cicen yang ulangan tidak di awasi di dalam kelas,” ujarnya lagi. Belum lagi pengalaman di organisasi yang akhirnya membuat ia bisa bertahan di mana saja.

 

Mendengarkan itu, ada kepuasan yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Walau saya hanya sesekali berbagi cerita di sekolah itu, tetapi mendengar dua podcast ini rasanya luar biasa. Rasa seperti candu yang tidak ingin kita lepaskan meski barang sebentar.  Ternyata, begini rasanya menjadi pengajar..

 

(Ampera, Syawal 1441H)