Berita

Perihal Usia

 

 

Jangan main-main soal usia, karena usia itu sesungguhnya tak ada yang tahu kapan berhenti melaju. Ada yang secara kronologis berumur lama, ada juga yang mati muda. Pun demikian dengan kesuksesan, ada yang justru cemerlang setelah usianya beranjak senja, tapi tak sedikit yang moncer di usia belia, mau bukti?

 

Dalam urusan kepala negara misalnya. Siapa tak kenal Mahatir Mohammad yang kembali terpilih sebagai Perdana Menteri setelah usianya mencapai 90 tahun. Jauh sebelum dia, ada  Hermann Joseph Adeneur, yang menjadi kanselir pertama Republik Demokratik Jerman pada tahun 1949, saat dilantik berusia 73 tahun. Toh walau usia renta seperti itu, ia bisa berkuasa hingga 1963.

 

Lalu ada Nikita Kruschev, yang menjadi pimpinan Uni Soviet, ditahun 1953 saat berusia 60 tahun. Saat berkuasa (1953-1969), ia mampu meladeni aksi Jhon F. Kennedy Presiden Amerika Serikat yang ketika dilantik tahun 1961 berusia 44 tahun. Mau contoh lain, silakan tengok, Spanyol. Jenderal Francois Franco, kelahiran 1892, bertahan menjadi pemimpin negeri Matador sejak tahun 1933 sampai wafatnya di usia 83 tahun.

 

Mereka adalah contoh-contoh nyata, bahwa usia kronologis berdasarkan tahun, tidak melulu menjadikan 'onderdil' penting ditubuhnya juga surut kemampuannya. Bisa jadi peranti pendukung biologis para pemimpin itu, masih mumpuni layaknya para pemilik usia kronologis yang muda.

 

Tapi sekali lagi, soal kesuksesan bukanlah tergantung dari usia kronologis yang dihitung berdasarkan berapa lama seseorang itu hidup. Para pemimpin negara yang berkilau di usia belia tak sedikit jumlahnya. Tengok kejadian di tahun 1453, ketika Muhammad Al Fatih dengan gemilang menaklukkan Konstantinopel dari tangan penguasa Romawi. Al Fatih yang dijuluki Sang Penakluk itu, masih berusia 21 tahun. Usia yang ukuran masa kini sedang asyik belajar di kampus.

 

Di era modern ada Sanna Marin, bisa dijadikan contoh. Saat dilantik sebagai Perdana Menteri di Finlandia, ia berusia 33 tahun. Boleh jadi, Finlandia termasuk sebagai negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi lantaran dipimpin perempuan berparas manis ini.

 

Di dunia bisnis pun demikian. Bill Gates dan Paul Allen sebagai misal. Mendirikan Microsoft saat usianya 20 tahun, kemudian menjadi jutawan di hari tuanya. Di Tanah Air, tak kurang-kurangnya pemuda sukses dalam korporasi. Sebut Achmad Zaky dengan Bukalapak-nya yang diracik ketika berusia 34 tahun. Pun demikian dengan William Tanuwijaya yang mendirikan Tokopedia saat usianya 28 di tahun 2009.

 

Saking bangganya dengan prestasi pemuda, sampai-sampai Pemimpin negeri ini, merasa perlu juga menempatkan orang muda di posisi di BUMN. Sebutlah Andi Gani yang menjadi Presiden Komisaris PT PP di usia 39 tahun. Juga Defy Indiyanto Budiarto, yang saat usia 34 tahun pada 2017 diangkat sebagai komisari PT PJB- perusahaan energi kelistrikan.  Adapula Ario Bimo, mantan kepala perwakilan Bank BNI Tokyo yang didapuk sebagai Direktur Keuangan di bank negara itu saat usianya 38 tahun.

 

Untuk urusan pemerintahan pun, kini ada staf khusus yang isinya anak muda berusia kurang dari 35 tahun. Di jajaran kabinet, alias pembantu Presiden muncul nama Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet Indonesia Maju di usia 35 tahun.

 

Pendiri Gojek, perusahaan multidolar itu, diberi kuasa kuasa mengurusi sistem pendidikan anak bangsa. Kelahiran Singapura 1984 ini, kenyang dengan pendidikan ala luar negeri. SMP di Singapura, kuliah pun lulusan Amerika Serikat. Bekerja pada perusahaan Amerika Serikat, kemudian berbisnis. Dari perjalanan karir maupun sekolah, kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya usia muda bukan halanganan untuk berprestasi.

 

Makanya, kalau akhir-akhir ini ada yang mempersoalkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 44 tahun 2019 tentang penerimaan murid baru dari TK hingga sekolah menengah atas, boleh jadi belum memahami benar isi beleid itu. Pada pasal 25 ayat 2 tertulis: "Jika jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka seleksi untuk pemenuhan kuota/daya tampung terakhir menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran."  Saya menduga soal usia disalahartikan dengan menegasikan anak yang lebih tua lebih punya hak untuk sekolah. Padahal, tidak ada maksud mendiskriminasi, bisa jadi itu sistem komputernya yang kelewat sulit menerjemahkan maunya Kementrian Pendidikan dan kebudayaan itu.

 

Apalagi, haqul yaqin Mas Menteri tak ingin anak bangsa keleleran gara-gara urusan usia, jadi tak bisa sekolah. Mas Menteri, tentu memahami, sebagai orang sukses saat usia muda, pendidikan yang baik menjadi syarat wajib. Oleh sebab itu, saya menduga ketika Mas Menteri menandatangani Permen itu, dilakukan dalam kesadaran penuh. Sebagai Pemimpin dunia pendidikan di Indonesia, ia sadar setiap tandatangannya akan menentukan nasib banyak orang. Bukan lagi pada tingkat korporasi, tetapi pada keberlangsungan negeri ini. 

 

Kecuali ia 'tak sengaja' meneken peraturan ini. Ahh rasanya itu mustahil!

 

(Ampera, Dzulqa'dah 1441H)