Berita

Sepeda Obat Corona?

 

Sedikitnya, motif punya dua makna. Pertama, motif yang berarti corak atau bentuk. Pengertian ini biasanya lebih sering kita dengar bila orang membicarakan perihal desain suatu benda. Bisa berupa desain yang tergambar di baju, bisa pula bentuk sebuah benda. Setiap motif yang disematkan, mudah saja dikenali. Ambil contoh batik bermotif parang  pada kain batik. Motif berbentuk huruf 's' yang tiada putus itu, termasuk motif lawas yang ada sejak era kerajaan Mataraman. Motif ini melambangkan usaha yang keras terus menerus tiada henti. Begitu mulianya motif ini, sehingga dulu  hanya kalangan kerajaan saja yang boleh memakainya. Namun kini, berhubung gelar Raja ataupun Sultan bukan lagi hal yang asing di telinga, siapapun boleh pakai motif ini. Tak terkecuali orang di luar etnis Jawa.

 

Pun demikian dengan hiasan rumah masyarakat Betawi masa lampau. Jakarta yang tidak lagi menjadi kampung sejak munculnya UU NO.10 tahun 1964 yang menetapkan daerah ini sebagai Ibu Kota Negara, punya motif 'Gigi Balang' yang menghias teras depan rumahnya. Meski bentuknya bergerigi layaknya gigi raksasa dalam cerita dongeng, toh motif itu punya makna yang bagus belaka. Bentuk segitiga dengan bulatan melambangkan keuletan, kejujuran kerja keras dan kesabaran. Sebuah tafsiran yang hingga kini saya tak pahami, darimana semua itu berasal. Berhubung saya bukan ahli sejarah, maka saya ikut saja, toh itu adalah hal baik yang bisa dijadikan penyemangat.

 

Perihal kedua, motif sebagai sebuah dorongan dalam diri manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Khusus artian kedua ini tak bisa dilihat telanjang mata,kecuali tindakan itu sudah dilakukan. Biasanya, para penegak hukum yang dianggap sanggup menafsirkan hal ini. Utamanya ketika melihat gelagat kejahatan yang dilakukan dengan pembuktian terbalik. Misal, seorang pencuri, ketika tertangkap, barulah bisa digali, apa motif dari pencolengan itu. Penafsiran semacam itu ibarat menebak isi durian. Hanya orang yang menaruh perhatian penuh terhadap buah berduri itu, paham betul, apakah bau yang muncul menunjukkan kenikmatan rasa durian. 

 

Akan halnya akhir-akhir ini hampir seluruh warga Jakarta merasa wajib berpeluh menggenjot sepeda, tentu setiap individu punya motif masing-masing. Ada yang memang berniat menjadikan badan bugar layaknya banteng di Meru Betiri, Banyuwangi, adapula yang ingin sekadar mengikuti tren masa kini yang kian menggelora. Sampai-sampai, meski Jakarta belum juga terbebas dari virus covid-19, toh antrean di toko sepeda layaknya antrean di bioskop yang menayangkan film favorit. Seperti Kartu Tanda Penduduk, sepeda saat ini layaknya identitas diri.

 

Walau demikian, motif bersepeda bisa pula dideteksi dari tampilan di media sosialnya. Misal, bagi yang bersepeda agar tubuh bugar tanpa kehilangan ketenaran, biasanya saban mengunggah di media sosial, disertai pula foto lokasi-lokasi tertentu lengkap catatan rute, kemana saja bersepeda hari itu ditempuhnya. Tak lupa, saban mengunggah, sosok sepeda si empunya tak luput dari bidikan kamera. Apalagi kalau menggunakan sepeda mungil dari Inggris, yang harganya setara dengan motor Jepang. Boleh jadi hanya sepedanya yang tampil tanpa perlu menampilkan muka. 

 

Apapun motifnya, satu khasiat yang pasti dari bersepeda itu: membuat hati bahagia pengguna dan mendorong bibir tersenyum lebar. Seumur-umur saya bersepeda, hampir tak pernah menemui orang menggenjot dengan muka bermuram durja. Kalau ada satu dua yang tampangnya merengut, saya yakin bukan ia tak gembira. Bisa jadi ia hanya letih karena kurangnya pemanasan saat menggenjot pertama kali. Bisa juga, merengut karena teringat, sepeda yang dipakainya dilaporkan ke pasangan dengan harga lebih rendah daripada saat beli di toko. 

 

Aksi 'mark down' alias melaporkan harga di bawah harga beli, bisa membuat gembira jika tak ketahuan. Meski ada juga kekhawatiran kalau ketahuan, tetapi akan segera lupa ketika menggenjot sepeda ke mana suka. Mau on road, off road atau sekadar keliling komplek. 

 

Namun begitu, akhir-akhir ini wajah sumringah terancam sirna. Bukan cuma soal akan ketahuan, tetapi ada sebab lain yang lebih hakiki, apa pula sebabnya? Usut punya usut, perkara bermula dari apa yang diwacanakan pejabat berwenang di lingkungan Departemen pemerintah yang mengurusi soal jalan raya. Ia bilang, mungkin saja akan dkenakan pajak bagi pemilik sepeda. Alasannya, saya menafsirkan sepeda kini punya fungsi ganda: sebagai alat transportasi dan juga sebagai simbol eksistensi masyarakat tertentu. Boleh jadi ia terinsipirasi sepeda asal Inggris yang banderolnya melebihi Rp 20 juta per sepeda. 

 

Saya khawatir, andai wacana ini diwujudkan secara nyata, hati riang pemilik sepeda bakal hilang yang berujung sepeda bersepeda bakal menekuk muka. Padahal, kata pemimpin negeri, hati gembira menjadi kunci meningkatkan imunitas di tengah guyuran pandemi covid-19 yang saat ini belum mereda. Berkali-kali dalam setiap kesempatan, tak bosan-bosannya para pemimpin negeri berlomba membuat kebijakan yang dapat menyenangkan dan menenangkan warganya.

 

Bahkan, baru-baru ini ada seorang pejabat negeri yang sejatinya mengurusi pertanian, saking inginnya ikut memberi solusi agar masyarakat tenang, ia mengumumkan Departemennya siap memproduksi besar-besaran kalung anti-virus corona. Saya yakin, motif mengumumkan itu agar masyarakat tak perlu takut situasi saat ini tetapi tetap waspada. Toh eucalyptus sebagai bahan dasar kalung itu, diyakini berkhasiat menghalau virus influenza. Meski sejumlah ahli virologi belum mengakui saripati daun makanan Koala itu terbukti secara medis menyingkirkan virus corona.  

 

Supaya hati tenang, supaya siapapun bisa yakin khasiat kalung ini, supaya para pesepeda bisa menebar senyumnya saat berseluncur, ada baiknya kita tunggu penjelasan Pejabat negeri urusan kesehatan, tapi di mana beliau?

 

(Ampera, Dzul'qadah 1441H)