Berita

Demi Anak

Orang tua mana yang berharap anaknya hidup susah di kemudian hari?  Orang tua mana, yang menganggap, bahwa masa depan anak-anak tak perlu dipersiapkan sejak dini?  Bahkan sebagian orang tua, ada yang tak lagi peduli dengan norma dan aturan yang ada, terpenting kelak kemudian hari sang anak tak terlunta-lunta hidupnya. Sesuatu yang tak patut ditiru.

 

Jamak kita dengar cerita haru-biru. Anak pekerja informal yang kemudian menjadi pesohor negeri gara-garanya orang tua berkorban demi anak dengan menahan segala keinginannya. Satu di antara yang bisa disebut adalah Dahlan Iskan. Siapa tak kenal dia? Pesohor media yang pada peluncuran Harian Disway, awal Juli lalu –media cetak khusus di Surabaya – hidupnya penuh perjuangan. Di besarkan sebagai anak petani, lelaki kelahiran Magetan, Jawa Timur 69 tahun lalu itu, mengaku baru merasakan meminum es saat duduk di bangku SMA.  

 

Kemudian, nasib membawanya menjadi jurnalis, hingga memiliki kerajaan media sendiri. Bahkan, saking moncernya, ia sempat di dapuk menjadi Direktur Utama plat merah yang menangani hajat hidup orang banyak. Tak berhenti, selepas itu DI menduduki pos menteri yang mengawasi perusahaan pelat merah.  

 

Kisah sukses tak cuma milik pesohor negeri. Di tempat tinggal ibu saya di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, ada penjaja koran, Bang Udin namanya. Pria asli Betawi, usianya sebentar lagi masuk kepala 6. Ia sudah menjajakan koran lebih dari 20 tahun. Di awali jalan kaki, kemudian menyewa sepeda, hingga akhirnya ia punya motor sendiri untuk berkeliling komplek.

 

“Alhamdulillah, sekarang udah enggak terlalu berat buat cari biaya anak. Anak saya yang besar sudah kerja jadi arsitek,” sebutnya suatu ketika saat berjumpa dengan saya beberapa bulan lalu.

 

“Alhamdulillah, lulusan mana Bang Udin?”

 

“ITB,” katanya singkat sembari melempar senyum.

 

Ia berkisah, demi menempuh pendidikan di kampus kenamaan itu, ia rela menahan diri dari letihnya berdagang koran.  Maklum, barang yang dijajakannya tak ada lagi yang berminat membacanya. Siapa pula yang mau bersusah payah membaca dengan halaman lebar, dan isi berita masa lalu? Bisnis media cetak semakin sulit, perusahaan skala besar saja mulai ngos-ngosan menutupi ongkos produksinya. Dunia media cetak memang tak lagi cemerlang.

 

Tapi Udin tetap tegar. Ia tak punya keahlian lain, selain berdagang koran. Pelanggannya kini orang-orang tua yang gagap terhadap teknologi. Masa kini, di Ibu Kota, orang macam ini terbilang langka. Hingga Udin harus memeras keringat untuk mencari orang-orang macam ini di pagi hari. Tujuannya, agar mendapat laba dan bisa mendukung usaha anaknya bersekolah menggapai hidup yang lebih baik.

 

Hasil tak pernah mengkhianati usaha, begitu pula apa yang diusahakan Udin terhadap anaknya. Kini ia bisa tersenyum lega. Anak tertuanya sudah menjadi arsitek yang  bekerja menjadi rekanan salahsatu kantor arsitek ternama di Bandung.

 

Udin mungkin tak sendiri. Masih banyak Udin lain yang belum terungkap ke permukaan. Kebanyakan mereka memang berada di bawah radar para pewarta. Bukan hal yang menarik diberitakan. Tak punya nilai jual yang bombastis. Apa hebatnya orang tua bekerja keras demi masa depan anaknya? Apa menariknya Udin yang bukan siapa-siapa berpeluh saban hari menjajakan barang yang lekas basi?

 

Lain cerita bila ada Pimpinan suatu Negeri yang secara malu-malu mendukung anaknya untuk memperebutkan posisi orang nomor satu di wilayah tertentu. Mengapa mendukung anak menuju masa depan yang baik kok terkesan malu-malu?  Bukankah, sebagai Pimpinan Negeri, ia tak terlepas dari statusnya sebagai  orang tua bagi anak-anaknya yang juga berarti memiliki hak untuk memperjuangkan nasib anak keturunannya kelak?

 

Bisa jadi ia bersikap seperti itu, karena tak mau dianggap menyalahgunakan jabatan. Sebab, ia sadar betul, sebagai Pimpinan Negeri, segala fasilitas diri berikut anak istri dijamin konstitusi. Artinya, seluruh ongkos  hidup semasa menjabat, dibayarkan dari pungutan iuran masyarakat yang dipimpinnya. Maka, ia khawatir, kalau dilakukan secara terbuka, citra diri yang selama ini dipoles agar tampil baik, bakal tercoreng seketika.

 

Nah, kalau ini jadi berita, bisa berabe!

 

(Ampera, Dzulqa’idah 1441H)