Berita

Pemuda Harapan Bangsa

 

Bukan, ini bukan cerita tentang orkes musik Pemuda Harapan Bangsa yang dibuat para mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa  dan Desain Indonesia (Stisi) Bandung tahun 1996 lalu. Tulisan kali ini bercerita tentang seorang Pengusaha muda yang punya cita-cita tinggi dengan berani berkorban dalam memberi kontribusi membangun Negeri. Persis lirik dalam lagu ciptaan Chandra Darusman “Pemuda” yang populer dinyanyikan Chaseiro,”.. di mana artinya berjuang// tanpa sesuatu pengorbanan?”

 

Soal berkorban jangan ditanyakan, Tokoh kita ini punya hasrat tinggi untuk menyumbangkan aktivitas bisnisnya untuk membangun masyarakat. Padahal, bila mengacu pada UU No.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, sebenarnya  ia tergolong sudah tak masuk kategori Pemuda.  Mari buka Pasal 1 ayat 1, dari UU yang diteken pada tanggal 14 Oktober 2009.   “Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.”  Sedangkan Sang Pengusaha muda ini Oktober nanti genap 33 tahun.

 

Meski tak lagi dianggap Pemuda secara dejure, toh Tokoh kita ini masih memiliki semangat kuat. Terlihat dari kesehariannya bertingkah layaknya Pemuda masa kini. Bermodal tubuh atletis dengan tinggi sedang,  hidung bangir, dan perut rata, ia bak  kuda ternak yang berasal dari semenanjung Arab. Maklum, Tokoh kita ini memang tak permah alpa berolahraga. Kalau tidak bersepeda, ia jogging atau sekadar melakukan lari-lari kecil di atas roda berjalan layaknya tupai dalam kandang.

 

Soal penampilan pun demikian. Sebelum adanya pandemi yang membatasi gerak, minimal 2 pekan sekali mampir ke tukang cukur langganannya. Langkah itu semata dilakukan untuk menyesuaikan bentuk tubuh atletis dengan kepala bergaya crew cut  alias cepak di samping kiri-kanan.  

 

Dalam berpakaian, sehari-hari ia lebih nyaman memadupadankan pakaian sederhana.  Sepatu kets, celana  blue jeans,  dengan kaos polos berbalut kemeja kotak-kotak atau putih lengan panjang.  Sesekali, kemejanya ditanggalkan dan diganti dengan blazer yang kontras warnanya. “Penampilan itu penting, apalagi sering bertemu dengan klien,” ujarnya dalam hati.

 

Ia tidak cuma piawai dalam tampilan. Urusan kedermawanan pun tak boleh disepelekan. Dalam tekadnya, menjadi pengusaha bukan sekadar untuk memperkaya diri, tetapi sekaligus memikirkan bagaimana para Pemuda Negeri tempatnya tinggal, tak luntang-lantung lantaran bingung mencari kerja. Era keterbukaan, impor dari Tiongkok, Hong Kong, Afrika hingga negara-negara lain, tak cuma komoditas, tetapi juga tenaga kerja. Inilah persaingan nyata yang harus dihadapi para Pemuda, sehingga ia berusaha mati-matian membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk anak negeri.

 

Tampaknya, menggeluti bisnis untuk membantu orang lain itu belum memuaskan hatinya. Pergaulannya dengan berbagai Pengusaha  Muda, memberinya inspirasi baru. Jika ingin memberi kontribusi langsung, maka jadilah Pemimpin di suatu wilayah. Kata lain, masuklah ke dunia politik praktis.

 

“Hanya orang-orang yang tak paham menganggap politik itu kotor. Apa iya, yang berkomentar miring itu mengerti, kita terjun di politik itu atas dasar niat yang murni atau tidak? Apa iya mereka paham, apa sih yang kita pikirkan, demi perut sendiri atau perut orang lain? Yang nynyir itu kan tidak paham, seperti saya ini, terjun ke politik karena punya tekad:  agar mempercepat proses segala macam tetekbengek perizinan yang Anda tahu sendiri sulitnya bukan main. Anda kan tahu, keputusan bisnis tak terlepas dari keputusan politik. Maka, biar prosedurnya tak berbelit, kita bisa sederhanakan kalau kita juga yang membuat regulasi, bukan begitu? “  tutur rekannya sesama Pengusaha yang kini berancang-ancang terjun ke dunia politik praktis.

 

Dipikir-pikir, benar juga apa kata rekan Pengusaha Muda asal Jawa Tengah itu. Dia saja yang berjualan Pisang Goreng dan Martabak –dengan jaringan seantero negeri- , berani maju mencalonkan diri sebagai Pimpinan suatu wilayah, pada pilkada 9 Desember 2020 nanti, kenapa saya tidak? Bathinnya.

 

Atas dasar itulah, ia bertekad bulat membangun Negeri ini dengan terjun ke dunia politik praktis.

 

“Saya mau ikut pilkada Mas, gimana kira-kira?” tanyanya suatu ketika kepada rekan Pengusaha lain.

 

“Oh ya, apa yang membuat kamu berpikir seperti itu?” jawab rekan Pengusaha itu.

 

“Teman saya, Pengusaha makanan di Jawa Tengah, juga ikut pilkada. Katanya ia ingin menjadikan bangsa ini lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Walaupun awalnya ia bilang tak mau, tapi beberapa bulan belakangan, saya dengar ia mencalonkan diri untuk merebut kursi pimpinan wilayah di tempat  tinggalnya.  Paling tidak, kalau nanti ia berkuasa, urusan bisnis tidak lagi berbelit.  Izin yang berbelit kan salahsatu yang membuat kita kerap sulit berakselerasi, bukan begitu?”  

 

“Hmm...iya juga, tetapi Anda  sudah ikut partai politik apa?” tanya rekannya itu lagi.

 

“Belum, tapi saya yakin, partai politik yang ada saat ini banyak yang sejalan dengan pemikiran saya.  Saya juga ingin membuat perubahan. Membuat bangsa ini jauh dari KKN- Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Ini sejalan dengan yang selalu digaungkan setiap partai saban pemilu maupun pilkada,” jelasnya bersemangat.

 

“Apa Bapakmu  seorang pejabat?” tanya rekan itu

 

“Enggak Mas, Bapak saya pensiunan Pegawai Negeri biasa,” jawabnya.

 

“Sanak-famili , Oom-tante, atau pakdhe-budhe, mungkin?”

 

“Enggak juga, memang kenapa?” tanya  Tokoh kita ini.

 

Agar  tak memupus harapannya, agar Pemuda Harapan Bangsa ini tak surut niatnya, yang diajak bicara segera mengakhiri percakapan.

 

“Kita bicara bisnis lagi aja ya,” kata rekannya setengah berbisik.

 

(Ampera, Dzul’qaidah 1441H)