Uncategorized

Sarjana Sapi

Saban lebaran Idul Fitri atawa Idul Adha, minimal dua ekor sapi ukuran 500 kg disembelihnya. “Kalau ada yg mau kebo, saya juga bisa potongin,” ujar Madun dengan logat Betawi kental.

Persis yang dikerjakan hari ini. Lepas pemerintah mengumumkan 1 Syawal 1437H ditetapkan Rabu, 6 Juli 2016, Madun bergegas menggiring seekor sapinya keluar kandang. Tepat Pukul 02.00 dinihari, dibantu Udi<span class=”text_exposed_show”>n tukang jagal dan dua kemenakannya, sapi berumur 3 tahun peliharaannya meregang nyawa. “Setelah itu kita bersihiin, bawa ke sini paha depan dan belakangnya,” jelas Ayah dua anak ini.

Di sini, ia merujuk pada lokasi di mana saya berbincang dengannya. “Saya jual daging sapi atau kebo semacam gini sejak masih SD (sekolah dasar). Lokasinya enggak pindah, selalu di perempatan Cilandak,” ungkap Madun.

Kedua bongkahan daging beriut tulang itu kemudian digantung di sebilah bambu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Udin sang tukang jagal, berikut seorang kemenakannya turut serta.

Tak ketinggalan, istri dan dua anak Madun, menyusul kemudian. “Biar bapaknya bau sapi, tapi si kecil terus minta digendong,” ujar sang istri yang menceritakan putri kecil mereka berusia 1 tahun 2 bulan.

Alhasil, pagi itu, Madun tak bisa maksimal melayani para pelanggan. Meski begitu, kemenakan dan tukang jagal yang turut membantu, terlihat sigap melayani pembeli.

“Saya jual per kilogram Rp 140 ribu buat dagingnya. Kalau lemusir (bagian lemak sapi) enggak pake kiloan, beli Rp10 ribu juga saya kasih,” tambah Madun yang mengaku berusia 35 tahun.

Walau dia jual di atas harga pasar yg kebanyakan Rp80-110 ribu per kilogram, tak kurang pembeli dagingnya. Sepanjang pagi, sedikitnya 50 kg sudah diboyong konsumen.

Dalam dunia persapian, Madun hapal segala seluk beluknya. Warga Mampang, Jakarta Selatan ini memang hidup bergelimang sapi.

“Di Mampang, saya masih pelihara sapi. Pelihara sapi ini menurun sejak bapak saya. Seminggu dua kali juga biasa nganter susu sapi segar ke pelanggan,” tambahnya.

Susu yang dibanderol Rp15 ribu per liter itu diantar ke seputar Lebak Bulus dan Pondok Indah, keduanya berjarak kurang lebih 15 km dari Mampang.

Walau tak asing dengan dunia sapi, Madun sesungguhnya pernah mencecap kerja kantoran. Setelah 7 tahun kerja diperusahaan pembiayaan, kemudian ia memutuskan untuk terjun total di dunia ini.

“Saya sarjana ekonomi dari Universitas Nasional. Lulus tahun 1999, abis itu langsung kerja kantoran. Tapi sekarang ngurusin sapi aja,” tutur Madun yang juga pernah ‘mondok’ di Gontor saat sekolah menengah dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *